Home

KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT CITOREK, LEBAK, BANTEN

KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT CITOREK, LEBAK, BANTEN

Oleh:

Mohamad Iyos Rosyid, S.KPm

Citorek, Lebak Banten

Padi Citorek, Lebak, Banten

            Citorek merupakan wilayah kesepuhan yang terdiri dari lima desa yaitu Desa Citorek Timur, Desa Citorek Tengah, Desa Citorek Barat, Desa Citorek Sabrang, dan Desa Citorek Kidul. Lima desa itu termasuk kedalam kesatuan Wewengkong Citorek. Meskipun secara administratif pemerintahan Kabupaten Lebak bahwa kelima desa itu termasuk pada Kecamatan Cibeber. Wilayah desa itu dipimpin oleh salah satu Jaro (Kepala Desa). Kelima Jaro yang ada di kesatuan Wewengkong Citorek disebut Pandawa Lima yang dipegang oleh Kesepuhan Kejaroan. Saat ini Kesepuhan Kejaroan yaitu Bapak H. Ace Atmawijaya (Dewan Perwakilan Rakyat Dapil IV, Kab. Lebak Partai PDI-P).  Ketua Pandawa Lima yaitu Jaro Atok (Desa Citorek Kidul).

         Masyarakat Citorek merupakan masyarakat yang beragama Islam. Masyarakat yang mempunyai tradisi dan kepercayaan yang diturunkan oleh nenek moyangnya dalam cara bertani. Masyarakat yang masih memegang teguh adat kesepuhan. Bertani di Citorek dalam kurun satu tahun hanya satu kali. Penanaman padi dilakukan pada bulan Maret hingga pemanenan secara adat kesepuhan dilakukan pada bulan Agustus. Kegiatan dibuat (panen padi) tanggal dan waktunya tidak menentu menunggu keputusan dari kesepuhan adat wewengkong citorek. Setelah penanaman padi lahan pertanian tersebut digunakan untuk pembibitan ikan mas dan ikan nila.

            Kearifan Lokal secara sederhana dapat diartikan sebagai kebijakan setempat, dan ada juga yang mengatakan sebagai cara pikir masyarakat setempat. (Baramuli et al. 1996 : 38), dalam bukunya mengatakan bahwa,

Dalam aktifitas sehari-hari masyarakat masih tetap berpegang teguh pada tradisi yang dilandasi oleh kepercayaan-kepercayaan baik dalam bentuk, sistem bertani, upacara-upacara, atau hari baik maupun hari buruk, dan kegiatan lainnya yang yang semuanya berdasarkan kepada sistem pengetahuan yang mereka miliki dan divariasi secara turun-temurun dari nenek moyangnya”.

Sedangkan (Lamech AP dan Prioyulianto Hutomo 1995 : 26), menjelaskan bahwa,

Manusia sebagai bagian dari lingkungannya, mempunyai hubungan timbal balik yang selaras dengan lingkungannya. Dalam interaksinya yang terus menerus dengan lingkungannya, manusia mendapatkan pengalaman tentang lingkungan hidupnya. Pengalaman tentang lingkungan hidup itu memberikan kepada manusia gambaran mengenai bagaimana lingkungannya berfungsi, dan memberikan petunjuk tentang apa yang dapat diharapkan manusia dari lingkungannya, baik secara alamiah maupun sebagai hasil dari tindakan manusia, serta tentang apa yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan”.

                 Sehingga dari penjabaran diatas, dapat di definisikan bahwa kearifan lokal merupakan pengetahuan atau sistem kepercayaan yang dimiliki masyarakat setempat berdasarkan pengalamannya yang mewujud menjadi kebijakan setempat dan diwariskan secara turun-temurun sebagai salah satu wujud budaya setempat / yang membentuk budaya setempat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: