Home

Desa Ciasihan, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat (Pembangunan Perdesaan)

PEMBANGUNAN PERDESAAN

(Pengaruh Kekerabatan Warga RW 07 Desa Ciasihan, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat Terhadap Pembangunan) 

Oleh:

Kelompok 3

Andini Sekar P (I34080009), Rika Yulia (I34080038), Husnul Khotimah (I34080056), Syifa Utari (I34080088), Agus Sandra (I34080103), Nadia Indah (I34080131), Sondang F Pakpahan (I34090018), Mohamad Iyos Rosyid (I34090044), Intan Endawaty K.P (I34090047), Rahayu Arizona (I34090058), Faiza Libby S. Lubis (I34090061), dan Karina Heza P (I34090117).

PENDAHULUAN

Suasana Desa, Bogor

Suasana Desa, Bogor

         Pembangunan seringkali didefinisikan sebagai upaya meningkatkan perekonomian secara besar-besaran. Perbaikan dan kelancaran infrastruktur, sarana dan prasarana umum, transportasi, dan berbagai pelayanan publik lainnya, dianggap sebagai hasil pembangunan. Namun kita sering tidak mencermati aktor yang berperan dalam proses pembangunan semacam itu. Kesalahan masyarakat dalam memaknai pembangunan membentuk karakter sumber daya manusia (SDM) yang superpasif. Akibatnya, kita hanya menunggu bantuan dari atas yang menyebabkan ketergantungan terhadap program pembangunan pemerintahan.

                Paradigma tentang pembangunan, dirasa keliru dan justru saat ini telah berkembang  di masyarakat. Pembangunan seharusnya berkelanjutan dan mengandung unsur pemberdayaan. Membangun adalah memberdayakan manusia demi kemajuan di masa sekarang dan masa mendatang. Pemberdayaan tentunya akan berkaitan dengan unsur pastisipasi. Wujud partisipasi ini akan terlihat lebih nyata di kehidupan pedesaan daripada di perkotaan, contohnya pada kegiatan gotong royong atau kerja bakti. Namun dalam konteks pembangunan, refleksi partisipasi masyarakat desa yaitu dalam hal pengambilan keputusan. Forum diskusi dapat mengarahkan masyarakat dalam menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi dengan menjalankan solusi bersama.

          Desa Ciasihan Kecamatan Pamijahan mayoritas penduduknya ialah keluarga tani. Obyek penelitian kali ini menggunakan warga RW 07 Desa Ciasihan sebagai responden. Warga RW 07 memiliki unsur genealogis yang kental dan hal ini melekat pada sistem tanah waris yang mengikuti hukum bijaksana dimana laki-laki dan perempuan mempunyai hak yang sama, bagi hasil tani dengan ketentuan 9:1 dimana petani berhak atas 90% hasil produksi mereka dan 10%nya diserahkan kepada pemilik penggilingan padi sebagai pembayaran, serta tempat tinggal mereka yang berkelompok dalam satu keluarga. Hal yang sangat menarik untuk  dikaji lebih mendalam yakni mengenai pengaruh geneologis terhadap kekerabatan warga RW 07. Kekerabatan inilah yang menyebabkan terbentuknya kelompok tani dengan tingkat partisipatif yang tinggi. Mereka menamakan kelopok Tani mereka Paguyuban Masyarakat Mandiri (PMM). Paguyuban Masyarakat Mandiri (PMM) ini merupakam upaya penelaahan masalah pertanian dan pencarian solusi dari masalah bersama melalui konsensus.

           Penelitian sosial yang menggunakan Kelompok Tani sebagai sample dapat melihat bagaimana kekerabatan warga RW 07 Desa Ciasihan dalam kehidupan sehari-hari dan bagaimana pengaruh kekerabatan kelompok tani yang bergabung dalam PMM terhadap pembangunan berkelanjutan. Media komunikasi kelompok tani di RW 07 Desa Ciasihan dapat dijadikan acuan analisis seberapa erat keterkaitan pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam proses pembangunan. Selain itu, dapat dianalisis bahwa kekerabatan menjadi faktor pendukung pembangunan berkelanjutan yang cenderung terjadi di RW 07 Desa Ciasihan.

              Melalui penelitian terhadap kelompok tani ini seharusnya, dapat membuat masyarakat mengerti pentingnya paguyuban sebagai wadah realisasi kerja sama dan partisipasi dalam mengambil keputusan. Hal ini baik untuk dipertahankan bahkan ditiru oleh kelompok tani lainnya. Pemerintah pun sebagai aktor penentu kebijakan akan memandang pentingnya ilmu dan informasi yang didistribusikan melalui paguyuban kelompok tani, dalam hal ini pengetahuan tentang pertanian organik. Setidaknya pemerintah dapat mengurangi produksi pupuk kimia yang tidak ramah lingkungan dan tidak ekonomis. Sementara itu, di lain pihak kaum akademisi juga dapat berkontribusi dalam pembangunan di Desa Ciasihan dengan menyebarkan inovasi pertanian kepada petani terkait pertanian organik.

             Untuk memudahkan proses menganalisis fenomena sosial pedesaan seperti penelitian di Desa Ciasihan RW 07 ini, perlu adanya pemetaan masalah yang dapat direfleksikan oleh Logical Framework Approach berikut:

             Garis panah menunjukkan adanya faktor sebab akibat. Artinya, Faktor genealogis yang didukung oleh variabel keluarga, sistem tanah waris, bagi hasil, serta pengelompokan tempat tinggal, akan mempengaruhi eratnya kekerabatan yang terbentuk dalam kehidupan sosial di RW 07 Desa Ciasihan. Kekerabatan yang mengandung unsur kerjasama dan interaksi sosial tinggi selanjutnya akan menciptakan proses pembangunan perdesaan berkelanjutan dimana terdapat unsur partisipasi, pemberdayaan, dan kontinuitas dalam pelaksanaannya.

Selintas tentang Desa Ciasihan

              Desa Ciasihan merupakan bagian dari Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Berdasarkan data yang didapat dari arsip desa (2010), Desa Ciasihan berdiri diatas lahan seluas 459.042 ha/m,2 terbagi atas 55 ha/m2 luas permukiman, sementara luas persawahan mencapai 342 ha/m2, sisanya adalah perkebunan, pemakaman, dan sebagainya. Sebelah timur Desa Ciasihan berbatasan dengan Desa Gunung Sari, Sebelah Barat dengan Desa Ciasmara, Sebelah utara dengan Desa Cibitung Kulon, sementara sebelah selatan merupakan batas Kecamatan Pamijahan. Desa Ciasihan terdiri atas 9 RW dan 51 RT.  RW 07 yang menjadi obyek geografis penelitian kali ini memiliki penduduk sebanyak 2502 jiwa. Sebanyak 1178 jiwa penduduk RW 07 Desa Ciasihan tersebut berprofesi sebagai petani, baik petani pemilik tanah, penggarap, atau hanya sebagai buruh tani. Jumlah petani di wilayah ini mencapai angka 47,08% dari total penduduk. Setelah petani, profesi dominan penduduk adalah pedagang yakni sebanyak 782 jiwa atau 31,3% dari total penduduk. Mereka berdagang di kota untuk menambah penghasilan pada saat musim senggang atau pasca panen. Mereka pergi ke kota untuk berdagang dan pulang ke desanya dalam kurun waktu dua minggu sekali atau sebulan sekali. Saat berdagang di kota, umumnya para petani ini tetap berkumpul dalam satu rumah sewa.

Pembangunan dan Kekerabatan

    Wacana pembangunan tidak dapat dipisahkan dari konsep perubahan sosial. Perubahan (pertumbuhan atau perbaikan) kesejahteraan masyarakat harus dijadikan indikator keberhasilan dalam membangun. Esensi membangun yakni proses menuju titik tertentu tanpa adanya pengulangan (antisiklikal), dan pembangunan sebagai bentuk operasionalisasi dan implementasi rencana-rencana yang telah dirumuskan. Banyak alternatif yang ditawarkan dalam langkah pembangunan. Adapun teori-teori pembanguan yang berkembang di era 90an[1] yakni; 1) teori pembangunan pra-klasikal yang menawarkan pemikiran classical religionsme, calvinisme, mercantilisme, colonialisme, atau 2) teori klasikal dengan pendekatan capitalisme, modernisasi, dependensi, dan sistem dunia, atau mungkin 3) teori kontemporer yang menggunakan pendekatan ekologisme, community empowerment, dan civil society focused development.

     Berkaitan dengan teori diatas,  pembangunan menuntut adanya dua aspek penting yang berkaitan, yakni konsistensi dan konsekuensi. Proses dan hasil pembangunan sangat dipengaruhi oleh para aktor yang berperan dalam pembangunan itu. Apabila kita menyoroti pembangunan kontemporer yang kerap kali dikaitkan dengan esensi kelestarian lingkungan-, maka pembangunan harus mengandung prinsip keberlanjutan (sustainnability). Pembangunan yang berkelanjutan adalah proses membangun yang hasilnya dapat memenuhi kebutuhan masyarakat pada saat ini, namun tanpa membuat generasi mendatang (anak-cucu) kekurangan atau menghadapi kesulitan dalam memenuhi kebutuhan mereka. Pembangunan haruslah melibatkan sejumlah orang atau individu, dimana mereka berpartisipasi secara sukarela dan membawa semangat kesetiakawanan sosial. Di dalam pembangunan itu akan berlangsung proses-proses sosial yang dilandasi oleh keinginan untuk saling berbagi, kesederajatan, demokratis, dan menghargai nilai-nilai budaya lokal.

       Pembangunan di Desa Ciasihan tidak cenderung pada pertumbuhan ekonomi, ekspansi kapital, utang luar negeri, dan teknologi padat modal. Mekanisme distribusi dalam membangunnya cenderung konsensus dan bersih dari transfer kekuatan trickle down effect[2]. Ukuran keberhasilan dalam pembangunan pun berupa peningkatan kesejahteraan petani dan ekosistemnya, bukan sekadar Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dan pendapatan per kapita. Pembangunan di RW 07 Desa Ciasihan dapat  merefleksikan beberapa prinsip pembangunan, yaitu:

  • Ketahanan ekonomi (capacity to endure)
  • Kelenturan (resiliency) dalam menghadapi perubahan
  • Kemandirian (self reliance) dan self-sufficiency (keswasembadaan)
  • Kontinuitas (continuity principle)
  • Kapasitas (higher carrying capacity)
  • Kekuatan (less vulnerable)
  • Kearifan terhadap nilai dan pengetahuan lokal (indigenous knowledge)

     Selain itu, pada saat ini telah berkembang satu konsep pembangunan baru yakni Popular development (empowerment-based-development). Pada konsep ini pembangunan haruslah melibatkan sejumlah orang atau individu dimana berlangsung proses-proses sosial yang dilandasi oleh keinginan untuk saling berbagi, kesederajatan, demokratis, dan menghargai nilai-nilai budaya lokal.

          Sebelum memahami konsep Popular Development ini, perlu didentifikasikan terlebih dahulu konsepsi kekerabatan atau kelompok kekerabatan menurut Murdock yang dikutip oleh Soekanto dan Soerjono Soekanto (1982), bahwa kekerabatan di Desa Ciasihan RW 07 dicirikan oleh hal-hal berikut:

  1. Adanya rasa kepribadian kelompok yang disadari oleh warga-warganya.
  2.  Terjadinya aktivitas-aktivitas berkumpul yang dilakukan secara berulang-ulang.
  3. Adanya sistim kaedah-kaedah yang mencakup hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang mengatur interaksi sosial antara warga-warga kelompok tersebut.
  4. Terdapatnya pimpinan yang mengatur dan mengawasi kegiatan-kegiatan kelompok.
  5. Kemungkinan adanya sistem dari hak-hak dan kewajiban-kewajiban dari warga-warga masyarakat tertentu terhadap sejumlah harta produktif, harta konsumtif dan harta pusaka.

                 Kelima ciri tersebut cenderung melekat dalam kehidupan warga RW 07 Desa Ciasihan. Kekerabatan yang sangat erat di kelima RT di RW 07 membuat pembangunan yang didasari oleh rasa sukarela dan membawa semangat kesetiakawanan sosial semakin mudah terwujud. Hal ini terlihat setiap istri petani berinisiatif memberikan bantuan tenaga dan sembako ketika dilaksanakan pembangunan fisik di desa. Masyarakat RW 07 menyadari bahwa hal itu adalah kebutuhan bersama untuk kemajuan desa, tanpa mempertimbangkan keuntungan pribadi yang didapatkan.

         Kekuatan dalam pembangunan perdesaan adalah milik bersama. Kekuatan berupa kekuasaan tidak akan memperbesar kesenjangan sosial. Oleh karena itu, masyarakat akan memperoleh kekuasaan dalam mengambil keputusan dan menentukan tindakan yang akan dilakukan melalui peningkatan kemampuan dan rasa percaya diri untuk menggunakan kekuasaan yang dimiliki. Selain itu, pola ini akan menjadikan individu, kelompok, ataupun masyarakat (komunitas) berusaha mengontrol kehidupan mereka sendiri dan mengusahakan untuk membentuk masa depan sesuai dengan keinginan mereka. PMM di RW 07 Ciasihan menjadi wadah bagi para petani untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pertanian, dimulai dari pemecahan masalah hingga introduksi sistem pertanian yang lebih produktif, namun dalam pelaksaannya petani tetap bebas mengambil keputusan.

                  Penjelasan di atas sangat terkait dengan aspek-aspek penting yang harus diperhatikan dalam konsep pembangunan. RW 07 Desa Ciasihan menggunakan pendekatan Popular Empowerment dalam membangun desa. Hal ini memperjelas bahwa pembangunan akan memberikan keuntungan yang mendasar bagi obyek pembangunan (masyarakat), yakni manfaat berupa ilmu yang bersifat kontinyu dan kekal. Proses pembangunan sangat mengandung unsur pemberdayaan dan perjuangan partisipasi masyarakat. Ukuran keberhasilan pembangunan tipe ini berdasarkan tingkat kesejahteraan masyarakat dan ekologi, serta tidak dipengaruhi oleh dimensi politik pemerintahan yang biasanya menyebabkan makna pembangunan menjadi bias. Oleh karena itu, jenis gerak perubahan tergolong evolusioner yang cenderung terencana dan bertahap. Perspektif matrealistik merepresentasikan bentuk perubahan warga di RW 07 Desa Ciasihan ini, di mana masyarakat bersama-sama melakukan pergerakan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan bersama.

Kekerabatan Bentuk Kelompok Tani untuk Sebuah Pembangunan

              Abbas (Anananyu 2009) mengemukakan bahwa peranan kelompok tani adalah 1) sebagai wahana belajar bagi petani dan anggotanya agar terjadi interaksi guna meningkatkan, pengetahuan, sikap, dan keterampilan dalam berusaha tani yang baik serta berperilaku lebih mandiri untuk mencapai kehidupan yang lebih sejahtera. 2) Sebagai unit produksi, kelompok tani merupakan kesatuan unit usahatani utuk mewujudkan kerjasama dalam mencapai skala ekonomi yang lebih menguntungkan, dan 3) sebagai wahana kerjasama antaranggota dan antarkelompok tani dengan pihak lain untuk memperkuat kerjasama dalam menghadapi berbagai ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan.

             Sementara SPB (Sinaga 2002) menyebutkan ada beberapa bidang dalam kegiatan usahatani yakni 1) pengadaan benih, 2) penanaman serempak, 3) pengadaan pupuk, 3) pengadaan pestisida, 4) pengamanan, 5) pemberantasan hama/penyakit, 6) pengairan, 7) pengadaan sprayer, 7) penyisihan hasil lumbung, 8) pemasaran hasil kelompok tani. Kegiatan yang dijalankan di PMM RW 07 Desa Ciasihan berupa transfer pengetahuan tentang pertanian yang bertujuan untuk penyeragaman pengetahuan dan pengoptimalan sumber daya desa. Peran Paguyuban tersebut dapat diintegrasikan dengan pernyataan Abbas (Anananyu 2009), dimana PMM dimanfaatkan warga untuk sama-sama belajar, sebagai unit produksi, dan wadah bekerja sama dalam meningkatkan kesejahteraan bersama.

             Kekerabatan yang terjalin amat erat diantara warga RW 07, menjadikan tingkat partisipasi warga terhadap pembangunan di desa tersebut amatlah tinggi, terutama di RW 07. Program-program pembangunan desa yang pada awalnya hanya menyentuh RW 01 hingga 05 akhirnya membangkitkan semangat warga RW 07 untuk bersama-sama membangun wilayah mereka sendiri. Beberapa fasilitas umum seperti jalan dan juga toilet umum merupakan hasil dari swadaya warga RW 07. Tingginya partisipasi ini membuat pemerintah desa setempat mulai memberikan perhatian lebih kepada warga RW 07. Perhatian itu diwujudkan dalam bentuk pengadaan program-program pengembangan masyarakat yang bertujuan membangun desa.  PNPM Mandiri mulai masuk ke dalam RW 07 setelah pembangunan di RW 01 hingga RW 05 terlebih dahulu. Sebagai program pembangunan mayarakat yang berbasis pemberdayaan dan partipasi masyarakat, program PNPM mandiri memiliki syarat yakni, pembangunan akan diberikan asalkan ada swadaya dari masyarakatnya. Oleh karena itu, PNPM mandiri menjadi wadah bagi masyarakat untuk menunjukan semangat gotong royong yang mereka miliki.

             Seolah berkelanjutan dengan PNPM, program Bina Desa juga diperkenalkan di warga RW 07. Berbeda dengan PNPM Mandiri, program Bina Desa ini berasal dari pihak swasta, bukan pemerintah. Pada penerpannya program Bina desa ini membawa dampak yang positif bagi warga RW 07 yakni menumbuhkan semangat warga untuk membangun desanya sendiri dengan membentuk Paguyuban Masyarakat Mandiri (PMM). Secara struktural, Paguyuban ini hanya diketuai oleh seorang Tokoh Mayarakat, yakni Bp. Ujang Shiron. Kemudian, Bp Ujang hanya memiliki sekretaris PMM yakni pemuda desa yang berprofesi sebagai petani (Kang Uning).

             Meskipun saat ini Paguyuban Masyarakat Mandiri ini belum resmi terbentuk, namun mereka telah merumuskan tujuan dan agenda yang akan mereka laksanakan. Agenda itupun disusun berdasarkan hasil musyawarah saat diadakannya kumpul kelompok untuk pertama kalinya pada tanggal 30 November 2010. Adapun agenda tersebut yaitu:

No

Kegiatan

Waktu

Deskripsi

Keterangan

1

Kumpul kelompok

30 November 2010

Pembentukan anggota dan pengurus, serta penyusunan agenda

Rumah Wak Haji

2

Latihan Pertanian Alami

Januari 2011

Delegasi Bina Desa memberikan materi atau ilmu mengenai sistem bertani alamiah, meliputi penggunaan pupuk dan pembasmian hama. Kemudian dipraktikkan bersama-sama

Saung Bina Desa

3

Latihan Administrasi

Februari 2011

Anggota terpilih akan dilatih tata cara pembukuan dan mengatur keuangan

Saung Bina Desa

4

Latihan Organisasi

Maret 2011

Seluruh anggota dilatih kepemimpinan dan tata cara berorganisasi yang terencana dan berstruktur

Saung Bina Desa

5

Rapat Rutin

Tiap akhir bulan (minggu ke empat)

Seluruh anggota berkumpul bersama pengurus Bina Desa untuk menyampaikan berbagai keluhan dalam kegiatan bertani, kemudian diselesaikan secara bersama-sama.

Saung Bina Desa

Iuran Anggota

Tabungan pendidikan (Rp 4.000) dan iuran saprotan (Rp 1.000)

Total: Rp. 5000

sumber: arsip sekretaris PMM

Selain itu, terdapat pula aturan-aturan hasil kesepakatan bersama anggota PMM, yakni (sumber: arsip sekretaris PMM):

–          Anggota yang tidak hadir sebanyak tiga kali berturut-turut tanpa alasan yang jelas akan diberhentikan

–          Konfirmasi kehadiran peserta akan dimusyawarahkan

–          Kepengurusan akan berlangsung selama tiga tahun per periode

–          Kepengurusan yang sama maksimal aktif dua periode

–          Kegiatan dilakanakan secara LUBER JURDIL

–          Apabila ketua mengundurkan diri akan digantikan dengan wakil ketua sampai periode selesai, dan berdasarkan musyawarah.

             Pelaksanaan agenda PMM ini bagi anggota mempunyai tujuan bersama yang telah disepakati melalui musyawarah. Mereka sangat mengharapkan adanya output dari kerja sama, misalnya: kemandirian dana, pengembangan pertanian alami, wadah konsultasi, serta memiliki kepandaian berorganisasi. Pembangunan yang berbasis partisipasi dan pemberdayaan masyarakat seperti yang berkembang di RW 07 inilah yang dapat dijadikan contoh mengenai arti dari suatu pembangunan masyarakat  atau lebh dikenal dengan popular development.

            Pelaksanaan agenda PMM ini bagi anggota mempunyai tujuan bersama yang telah disepakati melalui musyawarah. Mereka sangat mengharapkan adanya output dari kerja sama, misalnya: kemandirian dana, pengembangan pertanian alami, wadah konsultasi, serta memiliki kepandaian berorganisasi. Pembangunan yang berbasis partisipasi dan pemberdayaan masyarakat seperti yang berkembang di RW 07 inilah yang dapat dijadikan contoh mengenai arti dari suatu pembangunan masyarakat  atau lebh dikenal dengan popular development.

Dari uraian di atas apat disimpulkan bahwa hubungan genelogis yang terjalin diantara warga RW 07 mampu menciptakan suatu pola kekerabatan yang begitu erat. Kekerabatan tersebut menjadikan tingkat partisipasi warga terhadap pembangunan di desa tersebut sangat tinggi. Program pembangunan seperti PNPM Mandiri dan Paguyuban Masyarakat Mandiri (PMM) menunjukkan konsep pembangunan yang berkembang di Masyarakat Desa Ciasihan RW 07 ini berbasis partisipasi dan pemberdayaan masyarakat (popular development).

            Pengamatan di Desa Ciasihan RW 07 ini masih hanya memperhatikan keterkaitan kekerabatan terhadap pembangunan. Perlu diadakan program atau penelitian lebih lanjut tentang tata kelola kelembagaan yang diharapkan dapat menciptakan suatu perubahan sosial yang lebih cepat di Desa Ciasihan RW 07. Hal ini dikarenakan tata kelola kelembagaan pada Paguyuban Masyarakat Mandiri belum terstruktur dan independent, maka perlu adanya perhatian dari pemangku kepentingan atau stakeholder untuk memajukan Paguyuban Masyarakat Mandiri tersebut.

 

REFERENSI

 

Anantanyu, Sapja.2009.Partisipasi Masyarakat Meningkatkan Kapsitas Kelembagaan        Kelompok tani. Disertasi Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB).           Tidak dipublikasikan.

 

Sinaga, Anna. 2002. Kerjasama anggota kelompok tani pada sistem usahatani terpadu di   lahan sawah irigasi (KASUS KECAMATAN Banyuresmi, Garut dan Kecamatan         penyingkiran). Tesis program Magister sains sekolah pascasarjana Institut   Pertanian Bogor. Tidak dipublikasikan.


[1]  Sumber: slide kuliah MK. Perubahan Sosial “teori-teori Pembangunan Tahun 1990an”

[2] Teori Trickle Down Effect lahir dari aliran kapitalisme yang eksis saat orde baru. Dalam teori ini kemakmuran dapat tercapai dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi tapi tanpa pemerataan ekonomi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: