SEKOLAH PETERNAKAN RAKYAT (Sekolah PR) BANGKIT BERSAMA, KOMODITI SAPI PERAH, DESA KALIPUCANG, KECAMATAN TUTUR, KABUPATEN PASURUAN

Oleh:

Mohamad Iyos Rosyid, S.KPm

Latar Belakang

                Komoditas ternak sebagai bahan baku penghasil pangan berprotein tinggi seperti susu, dan daging mempunyai peranan penting dalam melahirkan sumber daya manusia berkualitas di Indonesia serta berdaya saing di komunitas global. Sebagai bangsa besar dengan sumber daya alam melimpah, mestinya Indonesia mampu memenuhi kebutuhan pangan asal hewan secara mandiri tanpa harus tergantung negara lain. Respon positif pun langsung ditunjukan oleh Dinas Peternakan Kabupaten Pasuruan dalam meningkatkan sentra peternakan sapi perah untuk meningkatkan kualitas produksi susu dan sumberdaya manusia peternak.

                 Respon positif juga ditunjukan oleh pengurus Koperasi Peternakan Sapi Perah (KPSP) Setia Kawan Nongkojajar, dan Pemerintahan Desa Kalipucang, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan. Setelah adanya penjajakan pertama pada tanggal 8 – 14 September 2015 yang dilakukan oleh tim LPPM IPB untuk mempersiapkan kepengurusan organisasi Sekolah Peternakan Rakyat. Rupanya mereka bergerak dengan cepat untuk mendukung program swasembada pangan pada komoditi Sapi Perah. Hingga waktu kegiatan acara deklarasi dipersiapkan dengan cepat.

Jajaran KPSP Setia Kawan, Dinas Peternakan Kabupaten Pasuruan, Pemerintah Desa Kalipucang, Fasilitator, GPPT Bangkit Bersama

Jajaran KPSP Setia Kawan, Dinas Peternakan Kabupaten Pasuruan, Pemerintah Desa Kalipucang, Fasilitator, GPPT Bangkit Bersama

               Sehingga, dengan kesepakatan bersama antara pimpinan LPPM IPB, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan RI, dan Dinas Peternakan Kabupaten Pasuruan ditentukanlah tanggal untuk deklarasi yaitu pada tanggal 7 November 2015. Semua stakeholders ikut terlibat di dalam acara deklarasi ini. Hingga melibatkan semua unsur di akar rumput (grassroot) peternak. Melihat hal semacam itu perlu adanya identifikasi untuk mengetahui lebih lanjut dalam menganalisa kegiatan organisasi Sekolah Peternakan Rakyat setelah pasca deklarasi.

Sejarah Sapi Perah

            Kecamatan Tutur merupakan wilayah yang berada didataran tinggi yang berada di Kabupaten Pasuruan. Keberadaan komoditas sapi perah sudah ada sejak pemerintahan kolonial Belanda yang masuk ke wilayah sini yakni pada tahun 1911. Belanda membawa peternakan sapi perah ke wilayah Nongkojajar (atau yang sekarang dikenal Kecamatan Tutur) dengan tujuan untuk mencukupi kebutuhan susu bagi orang-orang Belanda. Masyarakat asli dipaksa oleh orang-orang Belanda untuk beternak sapi perah dan mengikuti kemauan kolonial pemerintahan Belanda pada saat itu.

            Paska kemerdekaan Republik Indonesia yang di proklamasikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta pada tanggal 8 Agustus 1945. Masyarakat disini mampu mempelajari cara-cara beternak sapi perah yang baik dan pada akhirnya mereka sangat tertarik untuk beternak sapi perah. Apalagi kotorannya dapat digunakan menjadi pupuk yang diperlukan dalam tanaman sayur-sayuran, dan kotorannya dapat digunakan untuk membuat biogas. Hingga pada tahun 1959 pemasarannya sudah dilakukan oleh masyarakat Nongkojajar Tutur. Hingga pada tahun 1960 an para peternak bergabung dan membentuk wadah bersama yaitu koperasi.

Koperasi Peternakan Sapi Perah (KPSP) Setia Kawan

Koperasi Peternakan Sapi Perah (KPSP) Setia Kawan

Era Reformasi

            Reformasi pun sudah berlangsung 16 tahun dan kemajuan koperasi yang ada saat ini tidak lepas dari sejarah panjang yang dilakukan oleh masyarakat Kecamatan Tutur. Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah mengatakan bahwa salah satu lembaga yang berkontribusi penuh dalam membantu perekonomian masyarakat dan tidak ketergantungan pada bantuan pemerintah adalah Koperasi. Koperasi ikut menyumbang dalam mengatasi kemiskinan di negeri ini. Namun, kemajuan yang sudah ada harus tetap dioptimalkan. Spirit kebersatuan yang selalu dilontarkan oleh Bung Karno harus tetap kita aplikasikan. Peternak yang sudah berkelompok dan terbiasa ikut berorganisasi kita himpun dalam satu wadah organisasi Sekolah Peternakan Rakyat (Sekolah PR).

Pengurus GPPT Bangkit Bersama

Pengurus GPPT (Gugus Perwakilan Pemilik Ternak) Bangkit Bersama

              Pada tanggal 13 September 2015 telah terbentuk kepengurusan Gugus Perwakilan Pemilik Ternak (GPPT) Sekolah Peternakan Rakyat Bangkit Bersama di Desa Kalipucang, Kecamatan Tutur. Kepengurusan GPPT terdiri dari 9 orang yang mewakili dari 500 anggota kelompok ternak. Komoditas sapi yang dikembangkan disini yaitu sapi perah. Sembilan orang yang tergabung ini adalah pemimpin bagi keterwakilan anggota yang bergabung dalam organisasi Sekolah Peternakan Rakyat Maju Bersama. Organisasi Sekolah PR Bangkit Bersama adalah organisasi yang menggerakan para peternak sapi perah yang ada di Indonesia dan ini yang pertama pada komoditi sapi perah.

Pembacaan Deklarasi oleh GPPT (Gugus Perwakilan Pemilik Ternak)

                  Acara deklarasi yang dihadiri oleh 600 peternak dan 200 tamu undangan meramaikan suasana deklarasi. Acara ini dihadiri oleh tamu undangan dari daerah Kabupaten Pasuruan maupun daerah luar Kabupaten Pasuruan, seperti dari Pemerintah Disnatek Provinsi Jawa Timur, Rombongan IPB, Kedutaan New Zealand untuk RI, dan Pemerintah Pusat. Acara Deklarasi dilakukan pada tanggal 7 November 2015. Semoga Sekolah PR Bangkit Bersama pada komoditi Sapi Perah bisa menjadi pioner bagi wilayah peternakan yang ada di Nusantara ini.

Mohamad Iyos Rosyid bersama Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan RI yaitu Bapak Prof. Dr. Ir. Muladno, M.SA

Mohamad Iyos Rosyid (Yosa) bersama Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan RI yaitu Bapak Prof. Dr. Ir. Muladno, M.SA (7 Nov 2015)

Radar Bromo; Deklarasi Organisasi Sekolah Peternakan Rakyat Bangkit Bersama, Desa Kalipucang, Kecamatan Tutur.

Radar Bromo; Deklarasi Organisasi Sekolah Peternakan Rakyat – Bangkit Bersama, Desa Kalipucang, Kecamatan Tutur.

http://www.wartabromo.com/2015/11/14/kalipucang-jadi-spr-sapi-perah-pertama-di-indonesia/

Sinergisitas Antara Akademisi, Businessman,Goverment, and Community

Sinergisitas Antara Akademisi, Businessman, Goverment, and Community