Kerusakan Lingkungan Wanasalam, Lebak Selatan, Banten

Oleh:

Mohamad Iyos Rosyid

             Wanasalam – Kecamatan Wanasalam yang memiliki luas wilayah 13.429.000 ha, dianugerahi oleh sumber kekayaan pertanian dan kelautan. Hamparan pertanian dan kelautan menjadi ciri khas yang dimiliki oleh Kecamatan Wanasalam. Kecamatan Wanasalam memiliki 13 Desa. Diantaranya Desa Muara Binuangeun, Wanasalam, Sukatani, Cikeusik, Bejod, Cipedang, Cisarap, Parung Sari, Cipeucang, Parung Panjang, Katapang, Cilangkap, dan Krg. Pamidangan. Namun, kekayaan itu seolah-olah berubah menjadi areal Pertambangan Pasir Besi di Dua Desa, yaitu Desa Cipedang dan Desa Muara Binuangeun.

Mes sebagai tempat tinggal Petambang

Mes sebagai tempat tinggal Petambang

            Desa Cipedang menjadi salah satu Desa yang dijadikan akses pertambangan pasir besi.  Luas pertambangan pasir besi mencapai kurang lebih 10 ha. Mayoritas warga Cipedang pasrah dengan keadaan dan tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya melihat keadaan dan merasakan dampak dari keberadaan tambang pasir besi ini. Kegiatan usaha pertambangan pasir besi ini, di kelola oleh tokoh masyarakat yang bernama (H. U) dan oleh perusahaan (PT SAM) yang berdomisili di Lebak Selatan. Namun tempat tinggal pekerja tambang di Mes tidak diberikan nama, alasannya tidak diketahui. Pertambangan pasir besi mempunyai 50 unit di sekitar desa Cipedang (termasuk Kp Duraen, dsb). EDG sebagai salah satu warga Cipedang, yang rumahnya berlokasi dekat dengan sekitar pertambangan mengatakan bahwa “Adanya pertambangan besi ini, air dirumah sekitar warga menjadi “payau” (air menjadi asin) dan tidak layak di konsumsi untuk air minum”. Warga merasa resah dengan adanya keberadaan pertambangan besi ini. Dampak ekologi adanya pertambangan pasir besi ini merusak lingkungan yang mana ekosistem disekitar lingkungan rusak dan keseimbangan alam terganggu.

Aktivitas Petambang

Aktivitas Petambang

            Saya masih menanyakan apakah RTRW (Rancangan Tata Ruang Wilayah) Kecamatan Wanasalam menyatakan bahwa Kecamatan Wanasalam merupakan Kecamatan areal Pertambangan? Padahal data yang saya miliki pada tahun 2011 menyatakan bahwa Kecamatan Wanasalam merupakan kecamatan yang memiliki kawasan agropolitan. Lantas, siapakah yang menjadi aktor terpenting dalam kepentingan pertambangan ini? Siapakah yang diuntungkan? Masyarakat pribumi kah? atau hanya pejabat setempat dan stakeholders dari kepentingan pertambangan saja? Saya sangat prihatin dengan adanya pertambangan ini, disisi lain ekosistem dan ekologi akan semakin terusaki, generasi selanjutnya akan merasakan dampak dari adanya pertambangan pasir besi ini. Bisa saja, adanya pertambangan pasir besi ini mengakibatkan erosi, ketidakseimbangan ekosistem, kerusakan lingkungan, menjadikan air sumur menjadi asin, dan masih banyak lagi. Selanjutnya apakah usaha pertambangan besi ini mendapatkan izin dari BPPT-PM (Badan Pelayanan Perizinan Terpadu dan Penanaman Modal)? Apakah Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Lebak mengijinkannya? Jika mengijinkannya, apakah mereka mempelajari AMDAL nya? Apakah mereka mengetahui Dasar-Dasar Hukum AMDAL? Coba lihat tentang Dasar-Dasar Hukum AMDAL ( http://bapedalda.acehprov.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=52%3Adasar-hukum-amdal&catid=39%3Aproduk-hukum&Itemid=27). Apakah mereka mematuhinya? Saya juga masih menanyakan, kemana para pengusaha ini menjual hasil dari pertambangan pasir besi ini? Apakah mereka mengekspornya keluar negeri? Semuanya masih bertanya-tanya karena ketidaktransparan dari adanya perusahaan ini. Saya yakin, Pemerintah juga tidak gegabah mengeluarkan perijinan usaha tersebut, dan menganalisis dampak lingkungannya, tetapi jika mereka mengijinkannya, apakah mereka mensosialisasikannya kepada masyarakat Desa Cipedang dan Desa Muara Binuangeun?

Rumah Warga Desa Cipedang

Rumah Warga Desa Cipedang

            Secara sosial adanya pertambangan pasir besi ini, masih dipermasalahkan. Apalagi ketidakjelasan nama perusahaan. Adanya perusahaan ini yang berdiri pada tahun 2012 tidak memberikan dampak kesejahteraan bagi masyarakat sekitar Desa Cipedang, apalagi dalam bentuk pertanggungjawaban CSR (Corporate Social Responsibility). CSR nya saja masih dipertanyakan? Pada umumnya, perusahaan dibidang pertambangan harus memiliki dan mempunyai CSR sebagai bukti kepedulian terhadap “lingkungan dan manusia (ekologi)” yang telah mereka eksploitasi. Melihat rumah sekitar warga Desa Cipedang masih tergolong miskin dan terbuat dari bambu, serta pekerjaan mereka yang mayoritas petani (Data Kecamatan Wanasalam 2011). Seharusnya adanya pertambangan ini memberikan dampak positif. Kemana keberpihakan kebijakan pemerintah Lebak saat ini?

            Wilayah di Kp Duraen Desa Cipedang menjadi pusat pertambangan pasir besi yang berlokasi di bibir Pantai. Lokasi tersebut lebih banyak menyedot pasir dan air disekitar pantai demi mengambil Pasir Besi. Kebijakan pemerintah pun tidak berpihak kepada wilayah pariwisata. Laut yang seharusnya memberikan keuntungan dari sektor pariwisata dan ekonomi kreatif malah berubah alih fungsi menjadi areal pertambangan yang meresahkan warga. Jalan-jalan pun menjadi rusak disekitar areal desa karena adanya mobilitas Mobil besar (Truk) berlalu-lalang disekitar pertambangan. Berdasarkan penemuan dari wawancara bahwa Memang Tanah yang digunakan disekitar  areal pertambangan pasir besi merupakan tanah Pemerintah Kabupaten Lebak, yang dulunya digunakan untuk pembudidayaan ikan atau lobster, namun saat ini dialihfungsikan menjadi areal pertambangan. Pertambangan pasir besi tidak dikelola oleh perusahaan saja melainkan oleh tokoh masyarakat setempat (H. U) yang berdomisili di Lebak Selatan. Lokasi Pertambangan Desa Cipedang berdekatan dengan lokasi penduduk.

Aktivitas Pertambangan Pasir Besi di Desa Muara Binuangeun

Aktivitas Pertambangan Pasir Besi di Desa Muara Binuangeun

            Desa Muara Binuangeun dulunya merupakan desa pariwisata dan obyek rekreasi masyarakat maupun tourist yang ingin menikmati keindahan pantai dan terumbu karangnya. Desa Muara Binuangeun juga terdapat aktivitas ekonomi kreatif yang menunjang masyarakat dalam kegiatannya. Desa Muara Binuangeun mayoritas merupakan Desa penghasil ikan terbaik di Lebak Selatan. Kini, sebagian Desa Muara Binuangeun Pada tahun 2012 hingga saat ini (tahun 2013) keindahan itu berubah menjadi pengeksploitasian dan pengkerukan pasir besi demi keuntungan dan keserakahan manusia. Keindahan tersebut tercoreng dan berubah menjadi pengrusakan lingkungan. Bibir pantai yang dulunya tempat bermain kini beralih fungsi menjadi aktivitas ekonomi, demi keuntungan dan kepentingan belaka. Padahal Menteri ESDM telah mengeluarkan moratorium yang menyatakan bahwa tidak diberlakukan Izin Usaha Pertambangan (IUP) baru, jikalau diizinkan mekanismenya harus melakukan tahap-tahap birokrasi yang ribet dan panjang (lihat : http://www.esdm.go.id/berita/artikel/56-artikel/4387-tata-cara-pemberian-izin-usaha-pertambangan-batuan.html). Hal ini yang menyimpulkan rasionalitas kita bertanya-tanya? ada apa dengan pertambangan pasir besi yang ada di Desa Muara Binuangeun? Mereka tidak melihat generasi bangsa selanjutnya, mereka tidak memikirkan dampak yang dihasilkan dari adanya pertambangan ini. Mereka HANYA MEMIKIRKAN URUSAN PERUT MASING-MASING dan NAFSU UNTUK MERUSAK ALAM.

Mobilitas Mobil Pertambangan Pasir Besi

Mobilitas Mobil Pertambangan Pasir Besi

Dari semua tulisan ini, dapat disimpulkan dengan baitan-baitan puisi yang mampu memberikan makna terdalam tentang pentingnya alam, Puisinya antara lain :

Ketika Daun Terakhir Layu,
Ketika Pohon Telah di Tebang,
Ketika Satwa sudah Hilang,
Ketika Bibir Pantai Telah Rusak,
Ketika Waktu tak bisa di Ulang,
Ketika Alam sudah Bicara,
Manusia akan Sadar, Bahwa Uang Sudah Tidak Bisa Di Makan Lagi.
SAVE CIPEDANG dan MUARA BINUANGEUN LEBAK SELATAN. KASUS PERTAMBANGAN PASIR BESI.

IMG_6020

Pertambangan Pasir Besi Desa Muara Binuangeun

IMG_5995

Pertambangan Pasir Besi Desa Cipedang

IMG_6012

Pengerukan Pasir Besi di Bibir Pantai

IMG_6017

Tanah Bibir Pantai dimiliki oleh Perusahaan