Pergerakan semakin memanas- BEM SI datang lagi dengan mahasiswa-mahasiswa intelektual yang ada di Universitas Se Indonesia. Aksi yang dilakukan oleh BEM SI yakni pada tanggal 28-30 Maret 2012 di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta. Aliansi BEM SI menolak dengan keras bahwa kenaikan BBM tidak pro rakyat. Banyak indikasi-indikasi yang perlu pemerintah lakukan dari pada menaikan BBM yang mencekik rakyat. Adanya diversifikasi migas lebih baik, dari pada pemerintah bersikerah mengeluarkan kebijakan yang tidak populis ini. Dilain pihak isu BBM ini menutupi semua isu-isu besar yang sebelumnya diberitakan oleh media di negeri ini.

Idealis itu terasa indah kawan. Ketika kita menyuarakan suara-suara kepada rakyat. Pergerakan dan gabungan BEM SI bersama teman-teman UNSRI (Universitas Sriwijaya), ITB (Institut Teknologi Bandung), UPI (universitas Pendidikan Indonesia)- Bandung, IPB (Institut Pertanian Bogor), PNJ (Politeknik Negeri Jakarta), UNJ (Universitas Negeri Jakarta). Beraksi dan menyampaikan serta menyuarakan kepada wakil rakyat di Senayan pada tanggal 30 Maret 2012.

Ketika pemerintah tidak mendengar dan melihat suara-suara rakyat, maka itu menandakan kematian dan ketidak berpihakan pemerintah terhadap pro rakyat. Solusi yang ditawarkan pemerintah yaitu dihadapkan dengan perang saudara antara polisi dengan masyarakat. Seolah-olah Aksi penolakan BBM ini seperti mau perang, sebelumnya pemerintah mengerahkan TNI untuk menjaga dan menback-up polisi dalam menghadapi pengunjuk rasa. Pemerintah berasumsi kurang baik kepada pengunjuk rasa dalam menghadapi aksi tersebut, sehingga penanganan aksi itu kurang persuasif dan bottom up kepada para pengunjuk rasa.

Para Mahasiswa melakukan shalat berjamaah menandakan bahwa seolah-olah pemerintah

sudah tidak mendengar keinginan rakyat, seolah-olah pemerintah MATI dalah mengambil solusi yang terbaik dalam melakukan disversifikasi energi. Pemerintah seolah-olah tidak ingin berdaulat dengan adanya kebijakan yang kiranya dapat membatu rakyat menjadi Mandiri dan Maju dalam kesejahteraan bangsa ini.

Hal yang paling tidak keberpihakan, dimana disaat pemerintah melakukan kebijakan, seolah-olah pemerintah mengadu dombakan antara mahasiswa+masyarakat dengan pihak polisi. Polisipun dalam melakukan hal-hal persuasif menggunakan alat-alat yang tidak pro masyarakat, yang mana masyarakat+mahasiswa dihadapkan dengan mobil water-canon, dan gas air mata. Justru hal itu bukan memicu untuk mahasiswa+masyarakat akan berhenti melainkan akan menjadikan percikan api amarah bagi para pengunjuk rasa.

Seharusnya seorang pemimpin yakni presiden SBY dalam menghadapi demonstran bersikap gagah dalam menghadapinya dengan cara mendatangi para demonstran secara terdepan, berikan ruang dialog bagi para pengunjuk rasa untuk menyampaikan aspirasinya dan pendapatnya terkait permasalaha-permasalahan yang dihadapi oleh negeri ini. Faktanya, ketika pengunjuk rasa memanas di negeri ini, presiden beralasan berkunjung ke China dengan alasan klasik, yaitu tugas negara. Dimana seorang pemimpin dalam menghadapi rakyatnya??