Pengabdian PMBS untuk Primordial

Oleh :

Mohamad Iyos Rosyid

PMBS Sumbang Buku Ke SMA N 1 Cihara

Paguyuban Masyarakat Banten Selatan adalah perkumpulan sekaligus organisasi kedaerahan yang mempunyai kosistensi terhadap pengembangan masyarakat. Nama PMBS diambil dari sebuah ide yang ingin mengatasnamakan masyarakat, meskipun secara keseluruhan orang-orang yang terlibat dalam PMBS ini adalah mahasiswa. Meski mereka mahasiswa, tetapi mereka menganggap bahwa mereka bagian dari masyarakat (society) . PMBS ini berdiri pada tanggal 8 Februari 2009, namun pergerakan dalam mengabdi kepada masyarakat menjadi bagian terhadap konsistennya. Selain berkonsistensi kepada pengembangan masyarakat, PMBS secara partisipatif ikut memperjuangkan pendidikan. Pendidikan merupakan bagian terpenting bagi generasi penerus Banten secara khususnya dan Indonesia secara umumnya. Untuk itu, ketika pada hari Selasa, 5 Juli 2011, PMBS memberikan sedikit buku-buku paket SMA kepada SMA N 1 Cihara, yang baru berdiri pada tahun 2011 ini. Kondisi SMA N 1 Cihara ini sangatlah memprihatikan. SMA mereka masih menumpang kelasnya ke SMP N 1 Cihara. Sungguh sangat memprihatinkan kondisi SMA N 1 Cihara, yang berada di kecamatan Cihara, kabupaten Lebak, Banten. Dengan bantuan pihak media Radar Banten, maka kegiatan PMBS diterbitkan di kolom Radar Cilangkahan tersebut. Disisi lain pendidikan ini sebagai media untuk mencerdaskan generasi penerus yang memiliki kualitas yang membanggakan, karena mereka adalah generasi penerus bangsa ini.

Rencana Buat Perpustakaan Desa

Disisi lain, masalah pendidikan ini mengetuk gebrakan PMBS yang berencana ingin membuat suatu perpustakaan yang nantinya bisa diakses oleh para siswa dalam mencari bahan-bahan yang diperlukan. Dengan membaca diharapkan para siswa-siswi mampu mempunyai wawasan yang sangat luas dan membuka cakrawala pemikiran mereka. PMBS ingin sekali meningkatkan minat membaca kepada siswa-siswi Lebak Selatan, agar mereka bisa menambah wawasannya. Niat mulia PMBS ini ternyata direspon oleh pihak media yang dengan sengaja menerbitkannya pada tanggal 14 Juni 2011. Tujuan media Radar Banten kolom Radar Cilangkahan ini, mengangkat agar pemerintah setempat mendengar serta merespon gebrakan terhadap perubahan pendidikan agar pendidikan di Lebak Selatan menjadi lebih baik lagi. Namun hingga sekarang ini apalagi Dinas Pendidikan terkait belum merespon bahwa akan dibuat perpustakaan disetiap SD, SMP, atau SMA ini. Sungguh sangat miris, tanggapan perpustakaan ini dibiarkan begitu saja. PMBS dengan sengaja meminta bantuan media untuk menggebrak perubahan agar pendidikan di lebak selatan menjadi lebih baik lagi. Bahkan PMBS menginginkan agar generasi penerus menjadi generasi yang berkarakter tangguh, mandiri, dan cerdas. Sesuai yang diamanatkan dalam UUD 1954, dimana pemerintah baik pusat maupun daerah bertanggungjawab dalam mencerdaskan bangsa atau generasi penerusnya.

Komentar Jalan Saketi-Malingping Rusak Parah

Di lain pihak juga, kondisi daerah Lebak Selatan sangat memprihatinkan terutama dalam infrastruktur khususnya diwilayah Banten Selatan yang menjadi suatu kendala. Jalan Raya Saketi-Malingping, dan Jalan Raya Gunung Kencana sungguh memprihatinkan, jalan tersebut sangatlah jelek dan berlubang. Bahkan anak-anak Fakultas Pertanian sering berasumsi bahwa jalan berlubang cocok untuk ditanami sawah atau untuk bersawah. Hal ini sangatlah miris dimana infrastruktur merupakan salah satu bagian terpenting untuk menumbuhkan roda perekonomian masyarakat setempat. Ketika pihak PMBS diminta untuk berkomentar oleh pihak wartawan Radar Banten kolom Radar Cilangkahan terhadap tanggapan jalan raya Saketi-Malingping, maka pihak PMBS mengatakan bahwa Dinas Bina Marga dan Tata Ruang  (DBMTR) di Provinsi Banten harus bekerja dengan baik. Untuk pembangunan jalannya diharapkan membangun jalan yang berkualitas, jangan sampai jalan yang dibangun selang sebulan kemudian rusak lagi. Opini dan statement tersebut oleh pihak Radar Banten, dipublikasikan pada hari Rabu, 24 agustus 2011. Ternyata aspirasi yang mewakili masyarakat ini didengar dan direspon. Namun, pembangunan jalan ini direalisasikannya ketika menjelang pemilihan calon gubernur dan wakil gubernur 2011-2016 Provinsi Banten. Seolah-olah pembangunan semacam ini dijadikan ajang untuk mencari perhatian masyarakat dan ajang perpolitikan kedaerahan.