OKNUM SUPIR DAN KONDEKTUR JASA RANGKAS-MALINGPING

Oleh :

Mohamad Iyos Rosyid

Kenyamanan dalam menikmati sarana transportasi umum harus diutamakan, tetapi realita yang ada di Lebak Selatan penumpang banyak diturunkan seenaknya tidak sesuai dengan tujuan yang sebenarnya

            Perusahaan jasa sangat dibutuhkan oleh masyarakat umum, karena dengan jasanya itu masyarakat bisa memenuhi kebutuhannya. Tetapi berbeda halnya apabila jasa yang kita tumpangi menaikan tarifnya diluar tarif normal sebut saja oknum yang sering melakukan itu. Ironisnya lagi mobil yang dinaiki itu langsung diturunkan atau di “move” atau istilah lokalnya “dioverkeun” (dipindah ke mobil lain). Kejadian semacam ini, bukan sekali atau dua kali saja, melainkan sudah membudaya pada oknum setiap beroperasi mulai pukul 16.00 s/d 19.00 wib di terminal rangkas. Biasanya penumpang diturunkan di daerah picung. Banyak alternatif atau strategi yang dilakukan supir untuk berpura-pura supaya mereka turun dan pindah ke mobil yang lain, salah satunya dengan berpura-pura mobilnya mogok, padahal mobil tersebut dalam kondisi sehat. Hal semacam ini sering dilakukan kepada masyarakat malingping dan sekitarnya.

Moda Transportasi yang ada di Lebak, Pandeglang, dan Banten. Foto diambil di http://www.muroielbarezy.com/2013/11/mobil-ps-naik-diatasnyapun-jadilah.html

Moda Transportasi yang ada di Lebak, Pandeglang, dan Banten. Foto diambil di http://www.muroielbarezy.com/2013/11/mobil-ps-naik-diatasnyapun-jadilah.html

                   UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan menegaskan bahwa dengan berlakunya UU No. 22 Tahun 2009 tersebut diharapkan dapt membantu mewujudkan kepastian hukum bagi pihak-pihak yang terkait dengan penyelenggaraan jasa angkutan, baik itu pengusaha angkutan, pekerja (sopir/ pengemudi) serta penumpang. Secara operasional kegiatan penyelenggaraan pengangkutan dilakukan oleh pengemudi atau sopir angkutan dimana pengemudi merupakan pihak yang mengikatkan diri untuk menjalankan kegiatan pengangkutan atas perintah pengusaha angkutan atau pengangkut. Pengemudi dalam menjalankan tugasnya mempunyai tanggung jawab untuk dapat melaksanakan kewajibannya yaitu mengangkut penumpang sampai pada tempat tujuan yang telah disepakati dengan selamat, artinya dalam proses pemindahan tersebut dari satu tempat ke tempat tujuan dapat berlangsung tanpa hambatan dan penumpang dalam keadaan sehat, tidak mengalami bahaya, luka, sakit maupun meninggal dunia. Sehingga tujuan pengangkutan dapat terlaksana dengan lancar dan sesuai dengan nilai guna masyarakat.

            Undang-undang yang dibuat idealnya dapat berjalan dengan baik, serta melindungi hak-hak para pengguna jasa. Namun, apa yang terjadi ketika pemerintah daerah (Dinas Perhubungan) belum bertindak tegas terhadap oknum-oknum supir dan kondektur. Sampai saat ini, mereka hanya menikmati hasil dari rakyat setempat yang kecewa terhadap buruknya birokrasi dinas perhubungan.       Seharusnya pemerintah daerah atau dinas perhubungan melakukan tindakan yang tegas, seperti memberikan hukuman atau sanksi kepada oknum tersebut agar jera, bila perlu pihak polisi menyamar menjadi penumpang, apabila ketahuan bertindak seenaknya oknum, maka polisi langsung menindak perbuatan tidak tercela itu. Selain itu juga, dibuat pos-pos polisi jam malam untuk wilayah picung, dan malingping, supaya ketahuan mobil jasa mana saja yang selalu melakukan tindakan tercela ini. Percuma ada sistem birokrasi apabila tidak berfungsi dengan baik. Mari kita sama-sama menerapkan disiplin dan menciptakan ketentraman dalam menggunakan jasa transportasi. Hukum harus ditegakkan seadil-adilnya.

               Menjelang Ramadhan, para penikmat atau konsumen transportasi umum sangat memburu moda transportasi yang nyaman. Pemerintah Kabupaten dan Provinsi pun harus segera melakukan sidak agar kejadian tersebut tidak dirasakan lagi oleh para konsumen dan pelaku oknum pun dapat di berikan sanksi atau hukuman sesuai perbuatannya itu. Menciptakan kenyamanan adalah solusi yang terbaik pada moda transportasi umum.