DINAMIKA POLITIK LEBAK SELATAN

Oleh : YS & MIR

Membangun Pondasi Pergerakan untuk Pembangunan yang Bermartabat

Suatu hari saya di undang oleh seorang rekan pada suatu acara. Acara itu dihadiri oleh orang-orang intelek di wilayah itu tentunya. Dalam acara itu dibahas tentang bagaimana peran Organisasi kemahasiswaan dalam pembangunan suatu wilayah. Anda tau pembicaranya lebih banyak membahas apa….???? Yang dibahas lebih banyak adalah tentang bagaimana memasuki suatu formasi pegawai negeri…. Jalan pintas menjadi pegawai negeri….menjadi pejabat pemerintah dan hal-hal yang berkaitan dengan pemerintahan….. peserta yang hadir terlihat serius mendengarkan seolah itu pembicaraan yang ditunggu-tunggu…… PNS (Pegawai Nunggu Sumbangan) seolah menjadi dambaan….

Ironisnya lagi saat itu salah satu tujuan dari pertemuan itu adalah untuk membentuk suatu organisasi kepemudaan yang independent, mandiri dan mampu memberi sumbangan untuk kemajuan masyarakat. Akan tetapi tamu yang diundang ada yang kampanye tentang dirinya, mengajak agar berada di bawah organisasi lain dan sebagainya. Sungguh aneh dan lucu……. Inikah potret wilayah yang gembar-gembor ingin menjadi wilayah yang otonom…. Dimana harga diri generasi yang akan menjadi pembangun wilayahnya….

Lantas saya berfikir, betapa memalukannya saat generasi muda yang masih seperti “kertas putih dan Kosong” di cekoki dengan faham-faham yang lumayan memuakan. Sebegitukah system yang terjadi saat ini..????

Organisasi dan Pembangunan

Jika kita memperhatikan organisasi atau perkumpulan yang ada saat ini, berbagai perkumpulan yang didirikan lebih banyak dibuat oleh kaum elit dan kalangan intlektual. Tujuan pendiriannya tidak lain dan tidak bukan, yaitu untuk memberikan sumbangsihnya bagi kemajuan pembangunan wilayah dimana organisasi atau perkumpulan itu didirikan. Akan tetapi, kenyataan yang ada saat ini, organisasi didirikan hanya sebagai ajang untuk berkumpul, makan-makan, ngobrol tanpa makna dan akhirnya bubar. Tidak pernah ada hasil yang jelas. Bagaimana tidak, obrolan atau yang biasa mereka sebut “diskusi” (bahasanya mungkin agar mencerminkan sebagai orang intlek) hanya sekedar obrolan yang mewah dengan pembahasan yang enak. Hasil diskusi seolah sebuah konsep istimewa yang siap direalisasikan. Agar lebih bagus, hasil obrolan itu dibumbui dengan janji-janji peserta ngobrol untuk merealisasikan hasil. Sayangnya setelah keluar ruangan, hasil obrolan itu terlupakan atau mungkin dilupakan. Tidak ada lagi konsep istimewa apalagi realisasi, yang ada hanya omong kosong yang terasa manis saat diingat.

Begitu banyak perkumpulan atau organisasi di Lebak Selatan, tetapi sampai dengan saat ini belum terlihat satupun organisasi yang paling tidak sudah dapat memberi sumbangan pemikirannya untuk kemajuan wilayahnya. Lalu pertanyaannya adalah untuk apa berbagai perkumpulan itu didirikan banyak-banyak jika tidak ada satupun yang dapat memberikan sumbangan untuk pembangunan wilayahnya. Lagi-lagi alasanya “kami kurang mengerti berorganisasi, kami baru belajar”. Alasan yang sangat awam tentunya dan tidak bisa dimasukan dalam logika berfikir orang yang mau berfikir. Bagaimana tidak, sangat aneh tentunya orang yang baru belajar organisasi sudah mampu membuat perkumpulan dan memberikan faham-faham pada orang-orang yang dikumpulkannya. Bukan kurang mengerti berorganisasi, atau juga baru belajar organisasi, tetapi pada saat organisasi itu didirikan sebelumnya belum memiliki tujuan yang jelas untuk apa organisasi itu didirikan. Alhasil, organisasi atau perkumpulan didirikan, hanya sekedar didirikan dan akhirnya bubaran seperti orang pacaran. Ini menunjukan betapa pentingnya pendidikan berorganisasi bagi para generasi muda saat ini.

Jika kita kembali ke masa lalu, banyak sekali kenangan yang mungkin bisa dikatakan istimewa yang ditorehkan oleh pemuda Indonesia. Padahal kita tahu, pemuda saat itu masih sedikit yang mengenyam pendidikan. Betapa tidak luar biasa dengan semangat dan keinginan, generasi muda mampu mempercepat kemerdekaan. Andai saja tidak ada pergerakan pemuda, mungkin kemerdekaan pun tidak akan pernah ada, meskipun ada paling tidak jauh dari kemerdekaan hadiah. Bukan berdasarkan perjuangan yang terhormat. Pergerakan saat itu tidak akan kuat jika dilakukan oleh masing-masing individu. Pergerakan saat itu dilakukan secara berkelompok dan terorganisir. Lalu apakah saat itu mereka berkata “kami kurang mengerti berorganisasi, kami baru belajar”…????. Mengapa mereka kuat ??.. tentu hanya satu jawaban yaitu perkumpulan yang dibuat tentunya memiliki tujuan yang jelas.

Usaha pembangunan yang dilakukan saat ini tidak akan lepas dari peran generasi muda. Pembangunan akan benar-benar terlaksana secara maksimal jika generasi muda mampu menyatukan dirinya dengan masyarakat dan dengan sesama pemuda. Dengan bersatunya generasi muda ini dengan tujuan yang jelas, maka akan menjadi salah satu paket bahan membentuk pondasi pembangunan suatu wilayah. Bentuk persatuan ini tidak selalu dibuat organisasi, tetapi bisa dibuat sebagai paguyuban, perkumpulan, dan sebagainya.

Cerita dari Negeri Seberang

Mungkin jika kita terus berbicara masalah kondisi yang terjadi di Lebak Selatan akan menjadi jenuh dan bosan. Oleh karena itu mungkin cerita dari luar pulau Jawa ini akan menjadi gambaran bagaimana Pulau Terpencil di daratan Indonesia yang hanya memiliki enam desa dengan jumlah penduduk seluruhnya + 4000 jiwa ini berjuang untuk mempertahankan hidupnya dan bagaimana peran Generasi Muda, Pelajar, Mahasiswa dan elit Desa di dalamnya dalam mempertahankan hidup dan memperjuangkan hak-haknya.

Pulau Gebe adalah salah satu pulau di Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara yang wilayahnya berdekatan dengan kepulauan Raja ampat, Papua. Pulau gebe merupakan kecamatan yang hanya memiliki 6 desa saja. Letak desa ini sangat berjauhan. Sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani ladang. Masyarakat di wilayah ini belum mengenal bercocok tanam padi. Makanan pokoknya adalah Sagu dan beras juga. Beras diperoleh dari pulau Jawa yang dikirim lewat kapal ke wilayah ini. Masyarakat sekitar bukan tidak mau menanam padi, akan tetapi jika menanam padi mereka harus berhadapan dengan hama babi yang cukup banyak dan sulit di basmi. Peralatan yang digunakan pun masih sederhana atau tradisional.

Di sini dahulu di sebut sebagai kota dollar. Apa saja yang dijual di wilayah ini semuanya laku dengan harga berapapun sejauh harga itu masuk logika. Dulu disini merupakan tempat perusahaan besar beroperasi. Wilayah ini banyak disinggahi warga lain diluar pulau. Ada yang membangun rumah, berkeluarga disini bahkan banyak yang menetap disini. Kehidupan warga disini sejahtera. Listrik pun 24 jam menyala tanpa henti dan gratis pula. Apa pun yang diinginkan masyarakat disini ada dan tercukupi.

Berbeda dengan kondisi yang terjadi saat ini, setelah sekitar tahun 2006 perusahaan berhenti beroperasi, terjadi mobilisasi penduduk secara besar-besaran dari Pulau Gebe ke luar pulau gebe. Setelah itu Gebe menjadi kota sepi yang penduduknya mengalami masalah ekonomi. Ironisnya, semua sarana kesehatan dan sebagainya seiring dengan mobilisasi penduduk, diangkut ke Ibukota Kabupaten. Lebih buruk lagi, wilayah Gebe merupakan wilayah yang berada di ujung kabupaten Halmahera Tengah. Transportasi yang ada hanya kapal yang singgah setiap dua minggu sekali. Selain kapal, memang ada pesawat kasa yang terbang maksimal tigakali dalam seminggu dengan ongkos yang sangat mahal untuk ukuran masyarakat miskin. Karena mahalnya biaya transportasi ini, menyebabkan harga sembako dan kebutuhan masyarakat lainnya menjadi mahal. Jika di Jawa (Kabupaten Lebak) harga satu ikat kangkung hanya Rp. 1000,- maka di daerah ini harganya Rp. 3500,-. Bisa dibayangkan kondisinya seperti apa.

Ini yang kemudian memaksa masyarakat berbagai golongan untuk sama-sama merumuskan bagaimana strategi membangun kembali perekonomian masyarakat yang morat-marit. Masarakat sadar, bukan hanya tanggung jawab pemerintah lokal untuk membangun wilayahnya tetapi juga tanggung jawab seluruh masyarakat. Masyarakat juga sadar, jika harus menunggu pemerintah pusat membangun wilayahnya maka akan lama sementara mereka butuh saat ini. Inilah yang kemudian menjadi latar belakang pergerakan elemen-elemen masyarakat mulai dari elit desa, pemerintah lokal desa dan kecamatan, perusahaan yang mempunyai tanggungjawab sosial pada masyarakat, masyarakat itu sendiri dan juga pelajar dan mahasiswa. Elemen-elemen ini bersatu dan mereka berusaha menciptakan suatu konsep pembangunan yang bersifat partisipatif, bottom-up dan berkelanjutan.

Ada hal yang menarik dari sisi lain kisah ini, yaitu bagaimana perjuangan pelajar dan mahasiswa dalam menyumbangkan tenaganya untuk membangun wilayahnya. Berawal dari sebuah ide membentuk perkumpulan mahasiswa dan pelajar, kemudian mereka merealisasikan keinginan itu. Tujuan pembentukannya adalah sebagai wadah bagi para mahasiswa dan pelajar dalam berdiskusi dan merumuskan konsep untuk kemajuan bersama. Karena tempat sekolah yang lumayan jauh, asrama tempat mereka tinggal dijadikan tempat berdiskusi dan setiap liburan sekolah mereka bersama-sama pulang kampung. Waktu liburan ini digunakan untuk berdiskusi dan merealisasikan hasil diskusi melalui serangkaian kegiatan kepemudaan. Dalam beberapa diskusi juga diundang elemen-elemen masyarakat untuk sama-sama sharing informasi, bertukar pikiran dan mendiskusikan permasalahan-permasalahan pembangunan yang ada di masyarakat. Peran mahasiswa dan pelajar disitu bukan sebagai pelaku sesungguhnya dari program pembangunan masyarakat, tetapi menjadi katalisator yang dapat mempercepat laju pembangunan. Mahasiswa, dan pelajar sangat dekat dengan pemerintah lokal, dan masyarakat.