Home

Beras Merah Sehat Citorek

Leave a comment

BERAS MERAH SEHAT CITOREK SOLUSI POLA HIDUP SEHAT

KARYA BUMDES PUSAKA CITOREK SABRANG, DESA CITOREK SABRANG, LEBAK, BANTEN

               Saat ini pola hidup Sehat sudah menjadi trand di kalangan masyarakat. Masyarakat yang menjadi konsumen pun sudah menjadi cerdas dalam memilih produk. Termasuk produk dalam membeli Beras. Solusi terbaik dalam membantu menjaga stamina tubuh, mencegah atau meminimalisir penyakit diabetes, pola hidup diet bagi para wanita, serta menjaga kecantikan wanita. Semua itu ada di Beras Merah Sehat Citorek produksi BUMDES PUSAKA CITOREK SABRANG, Desa Citorek Sabrang, Lebak, Banten.

plastik 5 kg

Brand Beras Merah Sehat Citorek kemasan 5 Kg, produk Beras yang Lezat, Enak, Unggul, dan Istimewa Di Produksi oleh BUMDES PUSAKA CITOREK SABRANG, Desa Citorek Sabrang, Lebak, Banten.

plastik 10 kg

Brand Beras Merah Sehat Citorek kemasan 10 Kg, produk Beras yang Lezat, Enak, Unggul, dan Istimewa Di Produksi oleh BUMDES PUSAKA CITOREK SABRANG, Desa Citorek Sabrang, Lebak, Banten.

Produk Beras Merah Sehat Citorek karya BUMDES PUSAKA CITOREK SABRANG, Desa Citorek, Lebak, Banten.

Produk Beras Merah Sehat Citorek karya BUMDES PUSAKA CITOREK SABRANG, Desa Citorek, Lebak, Banten.

Brosur Beras Merah Sehat Citorek

Brosur Beras Merah Sehat Citorek

Brosur Beras Merah Sehat Citorek

Brosur Beras Merah Sehat Citorek

 

Sejarah Organisasi Kepemudaan Gensi (Generasi Simpang)

Leave a comment

SEJARAH ORGANISASI KEPEMUDAAN GENSI (GENERASI SIMPANG)

Oleh:

Mohamad Iyos Rosyid, S.KPm (MIR Yosa Albantani)

Mohamad Iyos Rosyid, S.KPm

 

Sketsa Peta Wilayah Kampung Simpang, Desa Sukamanah dan Desa Cilangkahan.

Sketsa Peta Wilayah Kampung Simpang, Desa Sukamanah dan Desa Cilangkahan.

            Kampung Simpang merupakan wilayah yang sangat strategis dan menawan. Wilayah yang ramai dan menjadi tempat lalu lalang masyarakat dalam melakukan berbagai aktivitas. Saat ini Kampung Simpang diapit oleh dua desa yaitu Desa Cilangkahan dan Desa Sukamanah, Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak, Banten. Dibatasi oleh jalan provinsi sebagai jalur lalu lintas masyarakat. Kampung yang mempunyai sarana dan prasarana yang lengkap ini menjadi daya tarik masyarakat untuk bermukim di Kampung Simpang. Sarana dan prasarana ini meliputi, pasar simpang, toko perbelanjaan seperti Indomaret dan Alfamart, pabrik mobil, pom bensin, dan pantai Talanca yang secara aset masuk pada wilayah Kampung Simpang.

            Karakteristik masyarakat Kampung Simpang merupakan masyarakat yang dinamis dan mampu menerima perubahan yang sifatnya ke arah yang lebih positif. Pada tahun 1989 Kampung Simpang terkenal dengan komunitas GENSI (Generasi Simpang) yang di pelopori oleh Almarhum Lurah Sudin, Almarhum Lurah Udin, dan para tokoh-tokoh Kampung Simpang. Mereka mendirikan komunitas GENSI agar para pemuda berperan aktif dalam setiap kegiatan positif kepemudaan.

            Dieranya komunitas GENSI ini bergerak dibidang olahraga dan hanya terfokus pada satu bidang olahraga yaitu olahraga sepak bola. Puncaknya pada tahun 1994 team yang digerakan oleh pemuda yang bernama Eji Mardiana, Beben, dan lain-lain memperoleh juara I pada pertandingan sepak bola antar kecamatan. Disanalah nama komunitas GENSI (Generasi Simpang) mulai terkenal dan mempunyai nama serta bergaining position yang tinggi (posisi tawar yang menjual). Hampir di setiap pelosok desa yang ada di Lebak Selatan mulai memperhitungkan kiprah komunitas GENSI.

            Kejayaan tersebut meninggalkan sejarah di dalam komunitas GENSI. Adanya dua matahari (ingin menjadi pemimpin) menjadi salah satu penyebab terpecahnya komunitas GENSI. Selain itu juga, hilangnya loyalitas, dan tidak adanya pondasi (rasa cinta dan ideologi) dalam membangun komunitas GENSI menjadi penyebab terpecahnya komunitas GENSI. Ditambah lagi, komunitas GENSI yang dulunya di bangun hanya bersifat partisipasi (ikut serta). Sehingga pudar dan menghilangnya nama komunitas GENSI diera tahun milenium (2000-an).

            Kejayaan yang pernah ditorehkan tersebut tidaklah berjalan dengan mulus. Dinamika kemasyarakatan mulai muncul. Ada yang ingin berperan menjadi pemimpin baru dan mulai memudarnya loyalitas (kesetiaan) dalam membangun komunitas GENSI. Hingga terjadi konflik-konflik sehingga vakumnya (tidak aktif) organisasi GENSI ini. Sampai terpecah menjadi nama-nama komunitas lain yang ingin menyaingi komunitas GENSI.

            Perubahan zaman dan begitu pesatnya pembangunan yang berada di Kampung Simpang menciptakan karakteristik baru masyarakat dan pemuda Kampung Simpang. Mereka yang dulunya guyub atau kompak, solidaritas tinggi, dan semangat gotong-royong yang masih melekat. Hanyalah sebuah cerita masa lalu saat komunitas GENSI berjaya. Saat ini, justru menjadi salah satu permasalahan yang sangat penting yang harus dibahas terutama tentang karakter masyarakat yang individualis, terkotak-kotak, pergaulan yang menyimpang, tidak adanya pengarahan positif kepada pemuda-pemudi, dan memudarnya gotong-royong dikalangan masyarakat, pemuda-pemudi, dan warga Kampung Simpang.

            Melihat permasalahan yang sangat penting ini, mulai adanya kesadaran dari segelintir pemuda saat ini untuk menjadikan hal tersebut sebagai masalah bersama. Timbulah segelintir pemuda yang masih mempunyai jiwa peduli dan semangat kepemudaan untuk mengembalikan kejayaan Kampung Simpang yang terkenal dengan semangat gotong-royong yang tinggi, solidaritas yang tinggi, dan jiwa sosial yang masih melekat untuk mengembalikan kejayaan Kampung Simpang. Berawal dari obrolan secangkir kopi antara Parid Hudori, Beni Hudori (Bebenk), Asep Sujana S.IP, Mohamad Iyos Rosyid, S.KPm (MIR Yosa/ Penulis), Yosa Fairuz Rohmi, dan Ahmad Effendi (Ateng) untuk mengkompakan kembali kejayaan GENSI timbulah sebuah konsep yang progresif yaitu gagasan keorganisasian.

            Tokoh pemudi yang mempunyai peranan penting dalam menggagas keorganisasian GENSI yaitu Mega Mahardika, Risnawati, Putri Wulan Clara dan Tantri Latami. Gagasan tersebut diwujudkan dengan menggerakan para pemuda dan pemudi untuk berkumpul dan membuat organisasi yang disetujui oleh para sesepuh (Bapak K.H Nuh, Bapak H. Nana) atau tokoh masyarakat Kampung Simpang (Bapak Yusri selaku BPD Desa Sukamanah, Bapak Hanapi, Bapak Eman Ompong, dsb). Organisasi kepemudaan tersebut yaitu bernama Organisasi Kepemudaan Generasi Simpang (GENSI) jika disingkat yaitu OK GENSI. Terpilihlah Yosa Fairuz Rohmi sebagai salah satu ketua pertama di organisasi kepemudaan GENSI secara musyawarah dan mufakat yang disetujui oleh para sesepuh masyarakat Kampung Simpang. Yosa Fairuz Rohmi dipilih menjadi ketua yang pertama pada Organisasi Kepemudaan GENSI dari tahun 2015 – 2017.

              Akan tetapi, terbentuknya kepengurusan pada Organisasi Kepemudaan GENSI yang telah didirikan ini, pada prosesnya masih banyak kelemahan dan kekurangan. Terutama dalam proses legalitas (pengakuan resmi dari lembaga pemerintah) dan penguatan pondasi dan ideologi Organisasi Kepemudaan GENSI. Ketua Organisasi Kepemudaan GENSI yaitu Yosa Fairuz Rohmi mengajak dan meminta Mohamad Iyos Rosyid atau MIR Yosa (penulis) untuk ikut memikirkan dalam merumuskan penguatan pondasi dan ideologi Organisasi Kepemudaan GENSI.

            Yosa Fairuz Rohmi menilai MIR (penulis) sebagai sosok yang tepat dan mempunyai kemampuan dibidang kelembagaan. MIR membantu untuk membuatkan konsep dan ikut secara teknis sebagai penggerak yang membawa kemajuan kepada hal yang positif untuk Organisasi Kepemudaan GENSI. Apalagi Ia menilai bahwa MIR merupakan seorang pemuda Kampung Simpang, Desa Sukamanah, Malingping, Lebak-Banten yang mempunyai idealisme untuk membangun dan memajukan daerahnya sehingga sudah menjadi kewajibannya untuk ikut memikirkan kemajuan para pemuda.

            Ideologi Organisasi Kepemudaan GENSI (Generasi Simpang) yaitu bertaqwa kepada Allah SWT, memegang teguh pada Pancasila, menjunjung tinggi semangat gotong royong, dan menerapkan serta melaksanakan empat pilar Organisasi Kepemudaan GENSI. Maka legalitas pun mulai dibenahi seperti menyusun AD/ ART, Berita Acara pembentukan Organisasi Kepemudaan GENSI, SK Desa Cilangkahan, SK Desa Sukamanah, Surat Domisili dari Kecamatan, dan menerapkan pemahaman 4 pilar yaitu keolahragaan, keagamaan, kepemudaan, dan pemberdayaan pemuda (sosial dan kewirausahaan). Semua itu di dasari dengan tujuan untuk menciptakan rasa cinta dari para pemuda-pemudi Kampung Simpang. Meningkatkan semangat gotong-royong dan menciptakan solidaritas tinggi dari masyarakat Kampung Simpang.

            Legalitas Organisasi Kepemudaan GENSI mulai diresmikan pada tanggal 26 Maret 2015. Tercatat pada sejarah peradaban manusia bahwa GENSI yang dulunya komunitas kini menjadi sebuah Organisasi Kepemudaan. Ini menjadi hari kelahiran dan semangat baru untuk mewujudkan kejayaan di Kampung Simpang, Desa Sukamanah, dan Desa Cilangkahan, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Organisasi Kepemudaan GENSI merupakan organisasi pengkaderan dan kontinu agar ideologi GENSI terus berkibar demi kemajuan suatu daerah khususnya yang ada di Kampung Simpang, Umumnya di Kabupaten Lebak. Tentunya dibutuhkan dari semua pihak untuk terus memajukan dan memberikan kontribusi pada kemajuan Organisasi Kepemudaan GENSI.

            Perlu diingat oleh semuanya bahwa membuat organisasi dan meruntuhkan organisasi adalah hal yang sangat mudah. Akan tetapi, agar organisasi selalu ada (eksis) dan para pengurus mempertahankan kiprah dan kemajuan Organisasi Kepemudaan GENSI adalah hal yang sangat sulit dan memerlukan pengorbanan serta perjuangan baik ditataran rayon, anggota, kader, dan pengurus Organisasi Kepemudaan GENSI. Salah satu wujud kontribusi para pengurus agar keberadaan organisasi selalu diperhitungkan adalah dengan cara mencintai, loyal (setia) dan menjaganya untuk terus menorehkan prestasi dan karya positif bagi daerah yang kita cintai.

Komunitas GENSI dalam beraksi diturnamen Sepak Bola.

Komunitas GENSI dalam beraksi diturnamen Sepak Bola.

Organisasi Kepemudaan GENSI (Generasi Simpang) yang diakui legalitasnya oleh Pemerintah Kecamatan Malingping (Bapak Camat Sukanta) pada tanggal 26 Maret 2015.

Organisasi Kepemudaan GENSI (Generasi Simpang) yang diakui legalitasnya oleh Pemerintah Kecamatan Malingping (Bapak Camat Sukanta) pada tanggal 26 Maret 2015.

Mohamad Iyos Rosyid (Penulis) sedang menunjukan hasil karya dari masyarakat perahu yang ditulisi Simpang Kota pada acara Muludan pada tahun 2015 yang diselenggarakan oleh Organisasi Kepemudaan GENSI .

Mohamad Iyos Rosyid (Penulis) sedang menunjukan hasil karya dari masyarakat perahu yang ditulisi Simpang Kota pada acara Muludan pada tahun 2015 yang diselenggarakan oleh Organisasi Kepemudaan GENSI .

STRUKTUR KEPEMUDAAN SIMPANG

Logo Organisasi Kepemudaan GENSI (Generasi Simpang) / Logo GENSI

Struktur Kepengurusan Organisasi Kepemudaan GENSI 2015-2017

Struktur Kepengurusan Organisasi Kepemudaan GENSI 2015-2017 Desa Sukamanah dan Desa Cilangkahan, Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak.

 

Citorek Mempunyai Potensi Pengembangan dan Pembesaran Ikan Mas

Leave a comment

CITOREK MEMPUNYAI POTENSI PENGEMBANGAN DAN PEMBESARAN IKAN MAS

Oleh:

Mohamad Iyos Rosyid, S.KPm

Omat salah satu pemuda Citorek yang mengembangkan ikan Mas di dalam Rangkeng

Omat salah satu pemuda Citorek yang mengembangkan ikan Mas di dalam Rangkeng

            Wewengkon Adat Kesepuhan Citorek yang terdiri dari lima desa yaitu Desa Citorek Timur, Desa Citorek Tengah, Desa Citorek Sabrang, Desa Citorek Barat, dan Desa Citorek Kidul dikelilingi oleh aliran sungai diantaranya Sungai Citorek dan Sungai Cimadur. Sungai tersebut sebagai sumber kehidupan masyarakat Citorek baik digunakan untuk mengairi sawah maupun membesarkan ikan mas. Pembesaran ikan mas sudah dilakukan sejak tahun 1990 an. Awalnya bermula dikembangkan di sawah-sawah disaat padi masyarakat sudah tidak di tanami lagi.

            Di wilayah Wewengkon Adat Kesepuhan Citorek menanam padi dilakukan satu tahun sekali. Setelah itu, sawah masyarakat dimanfaatkan untuk membudidayakan dan pembesaran ikan mas. Memasuki masa tanam padi, masyarakat memanen ikan di sawah yang nantinya akan ditanami padi lagi. Sebagian masyarakat mengkonsumsi ikan hasil panen untuk kebutuhan pribadi atau keluarga, sebagian menjualnya ke pasar atau kepada konsumen yang membutuhkan ikan. Sebagian lagi, masyarakat membudidayakan atau membesarkan ikan mas di dalam “rangkeng” ikan mas.

            Rangkeng adalah sarana yang terbuat dari kayu atau bambu, berbentuk menyerupai kolam ikan kecil yang berada di aliran sungai, berfungsi sebagai tempat untuk menjaga ikan agar tidak terbawa arus sungai. Rangkeng inilah yang dari dulu hingga sekarang masih dikembangkan sebagai tempat budidaya ikan mas. Sudah bertahun-tahun bahkan puluhan tahun ikan-ikan yang ada di wilayah Citorek tumbuh besar dan ikan hidup sehat di aliran sungai. Sungai tersebut selalu terairi meski musim kemarau pun menghampiri. Bahkan bagi pecinta hobi ikan harga perekor ikan mas yang berbadan besar di wilayah citorek berkisar Rp 2.000.000 – Rp 5.000.000 untuk ukuran 7-10 kg per ekor. Konsumen yang sering membeli ikan mas yaitu di wilayah luar Banten yakni daerah Bogor, Jawa Barat. Hampir setiap tahun dari luar daerah membeli ikan ke wilayah Citorek.

            Saat ini, hampir sebagian masyarakat Citorek mempunyai rangkeng ikan mas di wilayah aliran sungai baik sungai Citorek maupun sungai Cimadur. Ada yang mengembangkan ikan mas sebagai hobi, ada pula yang mengembangkan ikan mas sebagai nilai usaha ekonomi untuk menambah penghasilan masyarakat. Disisi lain juga keberadaan rangkeng ikan mas membawa dampak positif bagi kelestarian lingkungan aliaran sungai. Aliran sungai dapat terjaga dengan baik, dan ikan masyarakat pun hidup sehat.

            Bagi pemerintah Kabupaten Lebak perlu memperhatikan peranan tugasnya mengingat tahun 2016 sudah memasuki persaingan global yakni adanya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Persaingan itu menuntut masyarakat Kabupaten Lebak untuk bersaing dalam peningkatan sumberdaya manusia seperti peningkatan keahlian masyarakat, peningkatan ilmu pengetahuan masyarakat, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Peningkatan tersebut termasuk dalam peningkatan keahlian masyarakat dalam pembesaran atau budidaya ikan mas.

                 Pemerintah Kabupaten Lebak melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) perlu membantu masyarakat dalam berkontribusi untuk mengembangkan sektor perikanan darat (ikan air tawarr, ikan sungai, ikan rangkeng, dsb). Peningkatan itu bisa dilakukan melalui pelatihan kepada masyarakat baik tingkat pedesaan maupun tingkat kecamatan yang wilayahnya mempunyai potensi perikanan darat. Selanjutnya untuk meningkatkan kegemaran masyarakat dalam memajukan perikanan darat bisa dilakukan lomba kontes pembesaran ikan mas tingkat Kabupaten Lebak.

                    Kegiatan tersebut bertujuan untuk mengembangkan minat para pencinta ikan dan ajang untuk mengangkat potensi perikanan di Kabupaten Lebak. Adanya peranan dari masyarakat Citorek dalam mengembangkan pembesaran dan budidaya ikan mas perlu mendapatkan apresiasi yang positif untuk terus didukung terutama oleh DKP Kabupaten Lebak. Setidaknya DKP ikut membina dan mengembangkan potensi budidaya dan penggemukan ikan mas khususnya di Citorek umumnya Kabupaten Lebak di bidang perikanan darat. Agar Kabupaten Lebak mampu mengangkat potensi dan kearifan lokal daerahnya sehingga dapat bersaing dengan daerah-daerah lain dalam hal perikanan darat.

This slideshow requires JavaScript.

Sentra Peternakan Rakyat di Kabupaten Muara Enim

Leave a comment

Sentra Peternakan Rakyat di Kabupaten Muara Enim

Oleh:

Mohamad Iyos Rosyid, S.KPm

Proses FGD (Focus Group Discussion)

      Tahap pertama dalam proses pembentukan pengurus Gugus Perwakilan Pemilik Ternak (GPPT) adalah melakukan FGD (Focus Group Discusion). FGD dilakukan setelah mengadakan sosialisasi Sekolah Peternakan Rakyat pada SPR (Sentra Peternakan Rakyat) yang dilakukan di gedung kesenian, Muara Enim, Kabupaten Muara Enim (13 November 2015). FGD bertujuan untuk berdiskusi seputar peternakan, mengetahui maksud dan tujuan peternak ingin masuk ke SPR. Fasilitator dapat mengetahui tujuan mereka ingin gabung di SPR.

           Pada tahap FGD ternyata masih banyak perwakilan yang belum mengetahui apa itu Sekolah Peternakan Rakyat, tujuan Sekolah Peternakan Rakyat masuk ke desa mereka, dan manfaat ikut serta terlibat di organisasi Sekolah Peternakan Rakyat. Pertanyaan kritis dari peternak menghangatkan diskusi pada saat itu. Rasa keingintahuan yang sangat tinggi menjadi modal awal dari semangat belajar para peternak.

Proses Pembentukan Pengurus GPPT

           Pembentukan pengurus Gugus Perwakilan Pemilik Ternak (GPPT) diusulkan oleh para peternak yang dapat mewakili mereka. Nama tersebut di pilih berdasarkan keterwakilan dan diusulkan lima orang untuk menjadi pengurus dari masing-masing wilayah. Tahap selanjutnya adalah di seleksi oleh fasilitator dengan metode wawancara mendalam dan datang ke rumah peternak yang diusulkan untuk menjadi pengurus GPPT. Ada penilaian dalam menentukan pengurus GPPT. Penilaian itu diantaranya pengurus GPPT harus mempunyai ternak lebih dari 2 ekor, pengurus GPPT mempunyai kesungguhan dalam menjalankan roda organisasi Sekolah Peternakan Rakyat, Pengurus GPPT mampu mewakili peternak di wilayahnya, Pengurus GPPT berjanji tidak akan menjual ternak indukan produktif dan mempertahankannya untuk mengembangkan populasi ternak.

            Tahap selanjutnya yaitu verifikasi data calon pengurus GPPT. Verifikasi ini dilakukan dengan cara mewawancarai peternak lain untuk mengetahui apakah calon pengurus GPPT itu benar-benar mewakili aspirasi para peternak. Kemudian hasil dari verifikasi data tersebut disaring berdasarkan jatah kursi pengurus GPPT yang telah disepakati bersama dan disesuaikan dengan wilayah pengembangan sentra peternakan rakyat. Orang-orang yang dilibatkan menjadi pengurus GPPT adalah orang-orang yang mempunyai karakter militan, loyal, dan mempunyai kesungguhan untuk memajukan peternakan. Hal ini dilakukan untuk mencari para peternak yang profesional, terampil, dan ahli di bidangnya. Bukan peternak yang berorientasi pada bantuan, atau hanya sekedar mendapatkan keuntungan semata.

            Setelah terpilih sembilan pengurus GPPT maka yang menentukan ketua, sekretaris, dan bendahara, serta divisi lainnya adalah para peternak di masing-masing wilayah Sentra Peternakan Rakyat (SPR). Peternak diberikan kebebasan dan kedaulatan demokrasi untuk menentukan siapa yang bisa menjadi pemimpin yang dapat mewakili aspirasi para peternak banyak. Kepengurusan yang terpilih adalah orang-orang yang kompeten dan dapat mewakili mereka. Secara kepribadian mereka adalah orang-orang terbaik di wilayahnya yang sudah melewati berbagai proses seleksi kepengurusan GPPT.

Penyampaian Visi Misi oleh Calon Ketua GPPT di hadapan Peternak (92 orang), Disnakkan, dan Fasilitator LPPM - IPB

Penyampaian Visi Misi oleh Calon Ketua GPPT di hadapan Peternak (92 orang), Disnakkan, dan Fasilitator LPPM – IPB

Wilayah Pengembangan Sentra Peternakan Rakyat

            Di dalam pengembangan Sentra Peternakan Rakyat (SPR) di dalamnya terdapat Sekolah Peternakan Rakyat (Sekolah PR). Syarat terbentuknya SPR yaitu mempunyai 1000 ekor ternak sapi potong indukan dan 100 ekor ternak sapi potong pejantan. Untuk wilayah Kabupaten Muara Enim yang menjadi kawasan pengembangan SPR yaitu di Kecamatan Muara Enim, Kecamatan Gunung Megang, dan Kecamatan Rambang Dangku. Di sana penyebaran populasi ternak sangat banyak, namun masih rendah dalam proses pemeliharaan ternak sapi. Sehingga ternak mereka masih tinggi untuk diliarkan atau diangonkan.

      Untuk Kecamatan Muara Enim terdapat organisasi Sekolah Peternakan Rakyat yang di dalamnya terdapat tiga desa yaitu Desa Muara Harapan, Desa Harapan Jaya, dan Desa Saka Jaya. Di Kecamatan Gunung Megang terdapat organisasi Sekolah Peternakan Rakyat yang di dalamnya terdiri dari lima desa yaitu Desa Kayu Arasakti, Desa Gunung Megang Dalam, Desa Pajar Indah, Desa Panang Jaya, dan Desa Hidup Baru. Terakhir di Kecamatan Rambang Dangku terdapat organisasi Sekolah Peternakan Rakyat yang di dalamnya terdiri dari lima desa yaitu Desa Air Enau, Desa Manunggal Makmur, Desa Muara Emburung, Desa Air Cekdam, dan Desa Manunggal Jaya. Perbedaan desa yang tergabung di sekolah peternakan rakyat diambil dari wilayah yang banyak penyebaran populasi ternaknya.

      Nama organisasi Sekolah PR untuk Kecamatan Muara Enim yaitu Sekolah Peternakan Rakyat Muara Tigo Manunggal dengan slogan SPR Jaya, Peternak Sejahtera, dan Keluarga Bahagia. Kemudian nama organisasi Sekolah PR untuk Kecamatan Gunung Megang yaitu Sekolah Peternakan Rakyat Panca Muara Lengi dengan slogan Maju Bersama, Masyarakat Peternak Sejahtera. Sedangkan nama organisasi Sekolah PR untuk Kecamatan Rambang Dangku yaitu Sekolah Peternakan Rakyat Ex-Trans Serasan Berkarya dengan slogan Kite Bersatu, SPR Tangguh, dan Peternak Sejahtera.

Struktur Organisasi Kepengurusan GPPT (Gugus Perwakilan Pemilik Ternak) Sekolah Peternakan Rakyat Muara Tigo Manunggal.

Struktur Organisasi Kepengurusan GPPT (Gugus Perwakilan Pemilik Ternak) Sekolah Peternakan Rakyat Muara Tigo Manunggal.

      Kata-Kata Mutiara Ketua GPPT Sentra Peternakan Rakyat pada organisasi Sekolah Peternakan Rakyat Muara Tigo Manunggal Terpilih 2015 – 2020 Yaitu Bapak Sumadi.

Kata-Kata Mutiara Bapak Sumadi

Kata-Kata Mutiara Bapak Sumadi

      Wujud Kebersamaan GPPT dan Fasilitator Sekolah Peternakan Rakyat LPPM IPB

Kebersamaan Pengurus GPPT Sekolah Peternakan Rakyat Muara Tigo Manunggal dengan Fasilitator LPPM IPB.

Kebersamaan Pengurus GPPT Sekolah Peternakan Rakyat Muara Tigo Manunggal dengan Fasilitator LPPM IPB.

Sekolah Peternakan Rakyat Bangkit Bersama, Komoditi Sapi Perah, Desa Kalipucang, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan

Leave a comment

SEKOLAH PETERNAKAN RAKYAT (Sekolah PR) BANGKIT BERSAMA, KOMODITI SAPI PERAH, DESA KALIPUCANG, KECAMATAN TUTUR, KABUPATEN PASURUAN

Oleh:

Mohamad Iyos Rosyid, S.KPm

Latar Belakang

                Komoditas ternak sebagai bahan baku penghasil pangan berprotein tinggi seperti susu, dan daging mempunyai peranan penting dalam melahirkan sumber daya manusia berkualitas di Indonesia serta berdaya saing di komunitas global. Sebagai bangsa besar dengan sumber daya alam melimpah, mestinya Indonesia mampu memenuhi kebutuhan pangan asal hewan secara mandiri tanpa harus tergantung negara lain. Respon positif pun langsung ditunjukan oleh Dinas Peternakan Kabupaten Pasuruan dalam meningkatkan sentra peternakan sapi perah untuk meningkatkan kualitas produksi susu dan sumberdaya manusia peternak.

                 Respon positif juga ditunjukan oleh pengurus Koperasi Peternakan Sapi Perah (KPSP) Setia Kawan Nongkojajar, dan Pemerintahan Desa Kalipucang, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan. Setelah adanya penjajakan pertama pada tanggal 8 – 14 September 2015 yang dilakukan oleh tim LPPM IPB untuk mempersiapkan kepengurusan organisasi Sekolah Peternakan Rakyat. Rupanya mereka bergerak dengan cepat untuk mendukung program swasembada pangan pada komoditi Sapi Perah. Hingga waktu kegiatan acara deklarasi dipersiapkan dengan cepat.

Jajaran KPSP Setia Kawan, Dinas Peternakan Kabupaten Pasuruan, Pemerintah Desa Kalipucang, Fasilitator, GPPT Bangkit Bersama

Jajaran KPSP Setia Kawan, Dinas Peternakan Kabupaten Pasuruan, Pemerintah Desa Kalipucang, Fasilitator, GPPT Bangkit Bersama

               Sehingga, dengan kesepakatan bersama antara pimpinan LPPM IPB, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan RI, dan Dinas Peternakan Kabupaten Pasuruan ditentukanlah tanggal untuk deklarasi yaitu pada tanggal 7 November 2015. Semua stakeholders ikut terlibat di dalam acara deklarasi ini. Hingga melibatkan semua unsur di akar rumput (grassroot) peternak. Melihat hal semacam itu perlu adanya identifikasi untuk mengetahui lebih lanjut dalam menganalisa kegiatan organisasi Sekolah Peternakan Rakyat setelah pasca deklarasi.

Sejarah Sapi Perah

            Kecamatan Tutur merupakan wilayah yang berada didataran tinggi yang berada di Kabupaten Pasuruan. Keberadaan komoditas sapi perah sudah ada sejak pemerintahan kolonial Belanda yang masuk ke wilayah sini yakni pada tahun 1911. Belanda membawa peternakan sapi perah ke wilayah Nongkojajar (atau yang sekarang dikenal Kecamatan Tutur) dengan tujuan untuk mencukupi kebutuhan susu bagi orang-orang Belanda. Masyarakat asli dipaksa oleh orang-orang Belanda untuk beternak sapi perah dan mengikuti kemauan kolonial pemerintahan Belanda pada saat itu.

            Paska kemerdekaan Republik Indonesia yang di proklamasikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta pada tanggal 8 Agustus 1945. Masyarakat disini mampu mempelajari cara-cara beternak sapi perah yang baik dan pada akhirnya mereka sangat tertarik untuk beternak sapi perah. Apalagi kotorannya dapat digunakan menjadi pupuk yang diperlukan dalam tanaman sayur-sayuran, dan kotorannya dapat digunakan untuk membuat biogas. Hingga pada tahun 1959 pemasarannya sudah dilakukan oleh masyarakat Nongkojajar Tutur. Hingga pada tahun 1960 an para peternak bergabung dan membentuk wadah bersama yaitu koperasi.

Koperasi Peternakan Sapi Perah (KPSP) Setia Kawan

Koperasi Peternakan Sapi Perah (KPSP) Setia Kawan

Era Reformasi

            Reformasi pun sudah berlangsung 16 tahun dan kemajuan koperasi yang ada saat ini tidak lepas dari sejarah panjang yang dilakukan oleh masyarakat Kecamatan Tutur. Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah mengatakan bahwa salah satu lembaga yang berkontribusi penuh dalam membantu perekonomian masyarakat dan tidak ketergantungan pada bantuan pemerintah adalah Koperasi. Koperasi ikut menyumbang dalam mengatasi kemiskinan di negeri ini. Namun, kemajuan yang sudah ada harus tetap dioptimalkan. Spirit kebersatuan yang selalu dilontarkan oleh Bung Karno harus tetap kita aplikasikan. Peternak yang sudah berkelompok dan terbiasa ikut berorganisasi kita himpun dalam satu wadah organisasi Sekolah Peternakan Rakyat (Sekolah PR).

Pengurus GPPT Bangkit Bersama

Pengurus GPPT (Gugus Perwakilan Pemilik Ternak) Bangkit Bersama

              Pada tanggal 13 September 2015 telah terbentuk kepengurusan Gugus Perwakilan Pemilik Ternak (GPPT) Sekolah Peternakan Rakyat Bangkit Bersama di Desa Kalipucang, Kecamatan Tutur. Kepengurusan GPPT terdiri dari 9 orang yang mewakili dari 500 anggota kelompok ternak. Komoditas sapi yang dikembangkan disini yaitu sapi perah. Sembilan orang yang tergabung ini adalah pemimpin bagi keterwakilan anggota yang bergabung dalam organisasi Sekolah Peternakan Rakyat Maju Bersama. Organisasi Sekolah PR Bangkit Bersama adalah organisasi yang menggerakan para peternak sapi perah yang ada di Indonesia dan ini yang pertama pada komoditi sapi perah.

Pembacaan Deklarasi oleh GPPT (Gugus Perwakilan Pemilik Ternak)

                  Acara deklarasi yang dihadiri oleh 600 peternak dan 200 tamu undangan meramaikan suasana deklarasi. Acara ini dihadiri oleh tamu undangan dari daerah Kabupaten Pasuruan maupun daerah luar Kabupaten Pasuruan, seperti dari Pemerintah Disnatek Provinsi Jawa Timur, Rombongan IPB, Kedutaan New Zealand untuk RI, dan Pemerintah Pusat. Acara Deklarasi dilakukan pada tanggal 7 November 2015. Semoga Sekolah PR Bangkit Bersama pada komoditi Sapi Perah bisa menjadi pioner bagi wilayah peternakan yang ada di Nusantara ini.

Mohamad Iyos Rosyid bersama Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan RI yaitu Bapak Prof. Dr. Ir. Muladno, M.SA

Mohamad Iyos Rosyid (Yosa) bersama Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan RI yaitu Bapak Prof. Dr. Ir. Muladno, M.SA (7 Nov 2015)

Radar Bromo; Deklarasi Organisasi Sekolah Peternakan Rakyat Bangkit Bersama, Desa Kalipucang, Kecamatan Tutur.

Radar Bromo; Deklarasi Organisasi Sekolah Peternakan Rakyat – Bangkit Bersama, Desa Kalipucang, Kecamatan Tutur.

http://www.wartabromo.com/2015/11/14/kalipucang-jadi-spr-sapi-perah-pertama-di-indonesia/

Sinergisitas Antara Akademisi, Businessman,Goverment, and Community

Sinergisitas Antara Akademisi, Businessman, Goverment, and Community

Lebak Selatan, Banten Mempunyai Potensi Pengembangan Bibit Jahe Merah

Leave a comment

USAHA YANG DIKEMBANGKAN PADA TAHUN 2013 – 2015

Oleh:

Mohamad Iyos Rosyid, S.KPm

(MIR Yosa)

MENGAJAK DAN MENGGERAKAN PARA PETANI UNTUK MEMANFAATKAN PEKARANGAN RUMAH DAN MEMAKSIMALKANNYA UNTUK DIMANFAATKAN DENGAN BAIK

#Malingping #Wanasalam #Cijaku dan #Cigemblong

Penggagas Jahe Merah Lebak Selatan

Penggagas Jahe Merah Lebak Selatan

http://www.radarbanten.com/read/berita/170/17634/Pemuda-Banten-Selatan-Budidayakan-Jahe-Merah.html

Penanaman Jahe merah di lahan berpasir

Penanaman Jahe merah di lahan berpasir

Jahe merah merupakan kebutuhan obat-obatan maupun bahan baku minuman seperti bandrek dan industri lainnya seperti kopi jahe, susu jahe, wedang jahe, biskuit jahe, dan lain-lainnya. Kebutuhan pasar yang semakin tinggi terhadap bahan baku jahe merah, menjadikan Kelompok Tani Kreatif Plasma binaan Paguyuban Masyarakat Banten Selatan (PMBS) mengembangkan bibit jahe merah.

Keprihatinan terhadap pertanian, menjadikan sebuah pergerakan agar masyarakat ikut serta untuk mengembangkan pertanian. Jika mereka mandiri dalam bertani niscaya perkembangan pertanian di #BantenSelatan atau di #LebakSelatan khususnya dan Indonesia umumnya mengalami kedaulatan pangan. Inilah cita-cita besar yang diinginkan oleh semuanya.

Bibit jahe di jual ke pasaran. Bibit jahe yang di jual merupakan bibit yang sudah tumbuh di polybag dan siap ditanam. Harga bibit per polybag sangat terjangkau dan ekonomis bagi para generasi pencinta pertanian.

Bibit jahe juga dapat ditanam di lahan berpasir dan cocok di tumpang-sarikan dengan pohon pisang, cabai, tomat, kapolaga merah, pohon sengon (jengjeng) dan bahkan pohon jabon. Usia panen jahe merah yaitu 11 bulan untuk pembibitan kembali, dan 6 sampai 7 bulan untuk dikonsumsi sebagai bahan baku. Harga jahe merah yang fluktuatif (naik – turun) dan tidak menentu karena tergantung harga pasar, masih tetap diterima dan dibudidayakan oleh kalangan para pencinta pertanian.

Bibit jahe merah

Bibit jahe merah

Bibit jahe yang berkualitas dan membaik di bandrol dengan harga Rp 2.000 per polybag (Harga Tahun 2014). Harga ini tergolong ekonomis di semua kalangan pencinta pertanian. Bibit ini siap ditanam di lahan milik petani. Atau bisa juga ditanam di pekarangan rumah baik menggunakan karung atau media lainnya. Jika masyarakat mengembangkan jahe merah di pekarangan rumahnya maka tidak usah membeli kebutuhan dapur ke pasar. Sebuah kenikmatan tersendiri jika memanen hasil pertanian yang ditanam dan di konsumsi sendiri. Ditambah juga, menghemat anggaran rumah tangga. Sehingga tidak boros dalam manajemen keuangan pribadi atau keluarga. Dari kegiatan itu saja, kita mampu menyisihkan atau menabung dari sebagian pendapatan rumah tangga kita. Apalagi khasiat jahe merah sangat bagus untuk kesehatan tubuh kita. Menjaga dan memperkuat imun daya tahan tubuh kita. Sehingga di dalam kondisi apapun badan kita tetap fit atau sehat. Jahe merah mempunyai banyak khasiat untuk kebugaran tubuh kita.

Pertumbuhan Jahe Merah di karung

Pertumbuhan Jahe Merah di karung

Pertumbuhan Jahe Merah dikarung dirasa paling bagus dan hasilnya lebih maksimal jika dibandingkan dengan penanaman jahe merah melalui media tanah langsung. Unsur hara yang ada di dalam kandungan tanah bisa terukur dan disesuaikan kebutuhannya jika menggunakan media karung. Sedangkan jika penanaman ditanah unsur haranya sangat berebut antara tanaman satu dengan tanaman yang lainnya. Hal itu harus diimbangi dengan sistem penyiraman dan pemupukan yang baik. Jika penyiraman rutin maka akan membantu pertumbuhan jahe maksimal. Maka cobalah untuk membiasakan menanam dan merawat tumbuhan yang kita miliki. Mulai dari sekarang biasakan untuk menanam jahe merah. Produk rempah-rempah ini sangat dicari oleh orang luar negeri karena kaya dengan khasiatnya. Termasuk orang Belanda sangat menggemari untuk mengkonsumsi olahan minuman dari bahan baku jahe merah.

Pemupukan Jahe Merah

Pemupukan Jahe Merah

           Belajarlah untuk menanam, karena di dalam proses menanam atau bertani, kita diajarkan untuk bersabar dan mempunyai jiwa untuk mensyukuri kepada sang Maha Pencipta yaitu Allah SWT. Mulai lakukan dari diri sendiri untuk menggemari bercocok tanam. Saya sarankan untuk mengembangkan tanaman rempah-rempah salah satunya jahe merah. Di masa depan peluang jahe merah sangatlah potensial, apalagi jika bisa mengembangkan industrinya.

Proses penyiraman jahe merah

Proses penyiraman jahe merah

Inilah salah satu bentuk gerakan para Kelompok-Tani yang mengajak untuk berbuat kreatif dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Kegiatan ini sudah dilakukan dengan baik selama dua tahun (2013 – 2015). Lokasi pengembangan berada di Saung Kreativitas Tani – Plasma Jl Raya Bayah Kp. Simpang Rt/ Rw 13/ 01 Desa Sukamanah, Malingping, Lebak, Banten. Berharap kegiatan ini bisa terus tertularkan kepada para Kelompok-Tani yang ada di Kabupaten Lebak untuk semakin mandiri dalam mengembangkan usaha pengembangan Jahe Merah terutama untuk masyarakat yang berada di Kecamatan #Malingping #Wanasalam #Cijaku dan #Cigemblong

MENUNGGU GEBRAKAN KEMAJUAN PETERNAKAN PROVINSI BANTEN

1 Comment

MENUNGGU GEBRAKAN KEMAJUAN PETERNAKAN PROVINSI BANTEN

Oleh:

Mohamad Iyos Rosyid, S.KPm

Bersama Ketua DPD HA IPB Provinsi Banten

Bersama Ketua DPD HA IPB Provinsi Banten
       (Bpk H. Asep Mulya Hidayat, S.P, M.MA)

               Jika kita belajar ke wilayah Jawa Timur dengan mudah kita bisa temukan institusi atau lembaga Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan. Lembaga tersebut lebih terfokus pada bidang peternakan. Namun, istilah “beda lahan beda belalang pula” sangat tepat untuk Provinsi Banten. Lembaga atau instansi yang tujuannya untuk menangani permasalahan peternakan di Provinsi Banten yaitu Dinas Pertanian dan Peternakan. Artinya fokus dinas tersebut terpecah kedalam dua hal yakni pada bidang pertanian dan bidang peternakan. Dimungkinkan peluang peternakan belum begitu maksimal untuk dikelola di Provinsi Banten.

            Padahal jika kita melihat letak goegrafis Provinsi Banten ialah letak yang sangat strategis. Provinsi Banten berdekatan dengan DKI Jakarta, dan gerbang transportasi Pulau Sumatera dan Pulau Jawa. Kondisi tersebut juga didukung karakteristik daerah yang secara umum dapat dibagi dalam tiga karakteristik wilayah. Wilayah I yang bisa disebut Serang Raya. Wilayah itu, sebelumnya merupakan Kabupaten Serang yang memekarkan menjadi tiga daerah definitif yaitu Kota Cilegon, Kota Serang, dan Kabupaten Serang. Karakteristik usaha di wilayah itu, meliputi industri, jasa, pelabuhan, pertanian, pariwisata kelautan, pendidikan, dan kehutanan.

            Wilayah II yang disebut juga Tanggerang Raya. Dari Kabupaten Tanggerang terlahir juga dua daerah yaitu Kota Tanggerang dan Kota Tanggerang Selatan. Karakteristik wilayah itu merupakan daerah industri, perdagangan, jasa dan perumahan pemukiman. Wilayah III adalah Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak. Karakteristik wilayah ini memiliki potensi pariwisata, pertanian, peternakan, pertambangan, kehutanan, pendidikan, dan perkebunan. (KLIK BANTEN, Vol 24, April, 2014).

                Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Banten harus membuat terobosan untuk kemajuan dunia peternakan Provinsi Banten. Misal dengan memperlombakan piala kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Banten agar para peternak berunjuk kebolehan untuk merawat, menjaga, dan mengembangbiakan populasi ternak. Mensosialisasikan kepada masyarakat atau kelompok ternak bahwa ternak yang bunting dan produktif tidak boleh dijual apalagi disembelih. Hal ini bertujuan untuk menjaga dan meningkatkan populasi ternak.

                Dari aspek kelembagaan, kelompok ternak harus mempunyai badan hukum agar legalitas kelompok ternak dapat diakui baik oleh pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Kelompok ternak yang tergabung harus mengadakan pertemuan rutin untuk mengkaji dan membahas permasalahan ternak. Pertemuan ini harus diinisiasi oleh petugas peternakan baik di tingkat kecamatan maupun tingkat kabupaten. Tujuannya untuk meningkatkan sumberdaya manusia (SDM) kelompok ternak.

              Selain itu Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Banten harus melakukan pendampingan kepada para peternak dengan intensitas yang maksimal. Tidak bisa dipungkiri jika dilapangan sering ditemukan oknum LSM dan wartawan yang kerjanya mencari-cari kesalahan orang atau lembaga. Istilah bahasa lokal Banten yaitu “mengorek-ngorek data”, hasilnya kelompok ternak yang tidak bisa menghadapi oknum tersebut mengalami tekanan sehingga tidak maksimal dalam memelihara ternak mereka.

                   Tugas utama kelompok ternak adalah mengurusi ternak bukan mengurusi oknum-oknum tersebut, sehingga hal yang sangat wajar peternak membutuhkan fasilitator untuk menghadapi orang-orang semacam oknum. Selain itu juga, harus adanya sinergisitas antara Dinas terkait dengan pihak kepolisian, agar oknum LSM dan wartawan tersebut mengalami efek jera dan hukuman apabila melakukan tekanan paksaan pemerasan yang mengganggu kegiatan kelompok ternak. Sinergisitas ini jika terjalin dengan baik maka akan menciptakan KEMAJUAN PADA DUNIA PETERNAKAN!!!

Older Entries